Kamis, 02 September 2010

Memiliki Tauhid Kuat

Dinul Islam terdiri dari perintah dan larangan, yang secara esensial keduanya merupakan perintah untuk dikerjakan dari Allah swt. Yang pertama berupa perintah untuk mengerjakan sesuatu. Dan yang kedua adalah perintah untuk meninggalkan sesuatu. Seorang ibadurrahman benar-benar menaati seluruh perintah Allah swt. Karena dia memiliki kedalaman takwa dan kekuatan tauhid, sehingga akidahnya terpancang kokoh dalam kehidupan kesehariannya.
Perilaku tauhid yang kuat menjadikan seorang ibadurrahman memiliki keunggulan pribadi, dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Jiwanya selalu bangkit (khurûj). Pikirannya mengalami progresifitas. Kalbunya senantiasa melakukan gerak thawaf rabbani. Tindakannya menunjukkan keuletan dan profesional. Kesemuanya ini merupakan sifat dasar bagi para hamba yang akan dipilih Allah swt, di mana pemilik ruhani yang indah inilah, yang akan dikelompokkan ke dalam ibadurrahman.

“Para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain, beserta Allah…Mereka orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 63&68, 75-77).

Seorang ibadurrahman kalbunya disediakan untuk persinggahan Allah azza wa jalla, agar dirinya dapat selalu menthawafi-Nya setiap saat. Hidupnya benar-benar diikhlaskan hanya untuk-Nya. Keadaan kalbunya senantiasa diupayakan supaya tidak direbut oleh kekuatan-kekuatan tandingan Allah swt.
“Mâ kâna hammun ghairu-llâh, wa lâ yakûna muhimun ‘alâ syai`in illa-llâh”; Tidak ada cita-cita selain Allah, dan tidak ada yang dipentingkan terhadap segala sesuatu, kecuali Allah,” demikian nasehat Syekh Abul Fath Abdurrahman al-Baghdadi ra kepada alfaqir.
Dikatakan Syekh Ahmad Zaraqi Abdullah ra,

“Seorang ibadurrahman di dalam kehidupannya mempunyai sikap tauhid yang jelas dan kuat, ‘Aku percayakan kepada Rabb-ku yang Mahaagung dan tidak ada yang singgah di kalbuku, selain Allah’.”

Seperti telah diajarkan Rasulullah saw kepada sahabat Ibnu Abbas ra,
“Wahai anak muda! Aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (tauhid): (1)Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu; (2)Jagalah Allah, niscaya kamu mendapatkan-Nya ada dihadapanmu; (3)Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah; (4)Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah! Bahwa sekiranya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu; kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. Dan, sekiranya mereka berkumpul untuk menimpakan madlarat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan madlarat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu. al-Qalam telah diangkat dan lembaran-lembaran kita telah mengering” (Hr.Tirmidzi).

Seorang ibadurrahman benar-benar telah membebaskan dirinya dari segenap ikatan-ikatan, dia hanya diikat oleh ma’rifatullâh dan mahabbatullâh. Baginya hidup itu, “Tidak mempunyai apa-apa, dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa, kecuali Allah;” lâ yumlik, wa lâ yumlak, illa-llâh.
Dia sangat sadar, bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah yang mutlak. Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahadhahir, dan Mahabatin. Seluruh yang mewujud di dunia ini terjadi, jika Allah menghendakinya. Semata-mata karena Allah segala yang terjadi di kehidupan ini ada; lâ ilâha illa-llâh, al-awwâlu wal-âkhiru wadh-dhâhiru wal-bâthinu, in-syâ`allâh, mâ syâ`allâh.
Seperti telah disabdakan Nabi saw,

“…Dan, relalah dengan segala apa yang telah diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya…” (Hr.Ahmad, dari Abu Hurairah ra).

Adalah Sayyidusy Syekh Abbul Abbas Ahmad bin Muhammad at-Tijani ra senantiasa mewasiatkan kepada para muridnya, supaya tetap mengandalkan Allah swt semata dalam segala kebutuhannya.
Demikian halnya, Syekh Ibnu Atha’ilah al-Iskandari ra menasehatkan, “Tidak mengandalkan makhluk adalah merupakan kesenangan ahli thariqah, dan identitas kaum ahli hakikat.”

Tauhid Itu Benteng
Dinul Islam datang guna membebaskan umat manusia dari perbudakan dan penyembahan kepada selain Allah swt. Ia datang untuk mengajak pada sikap dan perilaku tauhid, umat manusia dibuat aman di dalam benteng tauhid. Hal itu tampak dengan tegas pada ajaran dinul Islam yang telah nyata-nyata menentang prinsip-prinsip syirik, yang akan berakibat pada pembelengguan kreatifitas dan hilangnya kemerdekaan umat manusia di dalam kehidupannya.
Seorang ibadurrahman sadar dan mengetahui, bahwa seorang hamba yang menyembah selain Allah swt. Itu lebih dikarenakan ketololan dan dorongan alami dari dalam dirinya, yang pada umumnya lebih cepat mempercayai adanya sebab yang menjadi penyebab atas suatu fenomena (pengaruh gejala).
Untuk itu bagi seorang ibadurrahman telah menjadikan para nabi dan para rasul, khususnya Rasulullah Muhammad saw, sebagai pemandunya demi kebenaran dan kesempurnaan perjalanan ruhaninya (suluk) kepada Allah swt. Disebabkan peran fungsional para nabi dan para rasul, khususnya Rasulullah Muhammad saw, adalah membebaskan umat manusia dari cengkeraman syirik (politheism) dan penyembahan berhala (paganism).
Kalimat lâ ilâha illa-llâh (Tidak ada sesembahan yang benar, selain Allah saja yang mutlak, red), membuktikan apa yang telah alfaqir terangkan di atas. Maksudnya, tidak adanya sesuatu yang patut disembah selain Allah swt, telah menjadi bukti nyata akan keberadaan Sang Pencipta, yang ini telah diakui oleh segenap logika sehat umat manusia.
Di sinilah bila nalar seorang hamba itu sehat, maka secara otomatis akan menerima keesaan-Nya. Oleh karena seorang ibadurrahman menjatuhkan pilihannya pada implementasi kalimat tauhid dalam hidup dan kehidupan kesehariannya. Karena dia tidak ingin digolongkan pada kelompok para hamba yang akalnya kurang waras, dan dijamin bakal mengalami kerugian dunia dan akhiratnya.

Keteladanan
Mengenai kuatnya perilaku tauhid ini ada beberapa teladan yang dapat ditiru, guna diambil manfaatnya untuk kemudian dijadikan referensi (rujukan) sikap keberagamaan keseharian kita. Mereka antara lain:
1. Zaid bin Haritsah ra adalah salah seorang sahabat Nabi saw, yang dapat dijadikan teladan mengenai perilaku tauhidnya yang sangat kuat.
Suatu ketika dalam perjalanan dia di hadang orang Kurdistan yang hendak membunuhnya. Sahabat Nabi tersebut tidak gentar, apalagi takut. Karena dia telah memiliki kekuatan tauhid rububiah, seperti yang telah diajarkan dinul Islam, “Tidak ada yang mampu membunuh, kecuali Allah. Tidak ada yang dapat menolong selain Allah.”
Akhirnya, dia mempunyai satu permintaan supaya diperkenankan shalat sunnah dua rakaat sebelum dibunuh, dan permintaan itu dikabul si Kurdistan.
Selesai shalat sahabat tersebut terus berdoa, sebagai refleksi perilaku tauhid uluhiah-nya, dengan mengucapkan,

“Ya Allah, wahai Dzat yang Mahamengasihi, wahai Dzat yang memiliki ‘Arsy yang mulia, yang Memulai, yang Mengembalikan, yang berbuat apa yang Dia kehendaki. Aku memohon kepada Mu dengan cahaya Dzat Mu yang memenuhi tiang-tiang ‘Arsy Mu. Dengan kekuasaan Mu yang Engkau kuasa mengalahkan semua makhluk Mu. Dengan rahmat Mu yang memenuhi segala sesuatu, tidak ada sesembahan selain Engkau. Dengan rahmat Mu aku memohon pertolongan. Wahai Dzat yang Mahapenolong terhadap orang-orang yang memohon pertolongan. Tolonglah aku.”
Di luar dugaan!? Di saat si Kurdistan hendak mengayunkan tombaknya, terlebih dahulu dia dibunuh oleh kelebatan bayangan seseorang yang datang secara tiba-tiba sambil menunggang kuda.
Si penunggang kuda itu berkata kepada Zaid, “Ketahuilah wahai Zaid! Sesungguhnya tidaklah ada seseorang yang berdoa dengan doamu itu, melainkan dikabulkan oleh Allah swt pada saat itu juga.”
Setibanya di Madinah, kejadiaan yang menakjubkan itu diceritakan kepada Nabi saw. Dan, Nabi saw bersabda, “Wahai Zaid, sesungguhnya Allah telah mengajarkan asma-Nya yang Mulia kepadamu. Bila dibaca tentu dikabulkan. Bila meminta dengannya, pasti diberi.”

2. Abu Darda’ ra adalah sahabat Nabi saw yang memiliki perilaku tauhid kuat lagi bersifat mukhlis. Suatu ketika mendapatkan ujian dari Allah swt, di mana kampungnya mengalami kebakaran yang sangat hebat. Pada saat terjadi kebakaran sahabat Nabi tersebut tidak berada di rumah.
Ada tiga orang yang memberikan informasi mengenai terbakarnya kampungnya. “Ya Abu Darda’, rumah-mu ikut terbakar.”
Di jawab oleh Abu Darda’, “Allah tidak akan melakukan yang demikian.”
Inilah sikap tauhid seorang Abu Darda’ yang tetap husnudlan dengan Allah swt. Karena dia yakin dengan apa yang telah diajarkan baginda Nabi saw kepadanya mengenai sebuah doa nubuwah,

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku. Tidak ada ilah selain Engkau, dan kepada Mu aku berserah diri. Engkau adalah Rabb ‘Arsy yang agung. Tidak ada daya upaya dan kekuatan, kecuali atas pertolongan Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Apa yang dikehendaki Allah menjadi kenyataan, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak bakal menjadi kenyataan. Aku mengetahui, bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dan, Allah dengan sifat ilmu-Nya dapat menguasai segala sesuatu dan dapat menghitung segala yang ada. Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan segala binatang yang Engkau kuasai. Sungguh Rabb-ku (memberikan hidayah) agar tetap di jalan yang lurus.”
Abu Darda’ memberi tahu kepada ketiga orang itu, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa membaca doa di atas setiap siang dan malam, maka tidak akan ditimpa marabahaya sedikit pun.’ Padahal aku secara mudawwamah telah mengamalkannya.”
Kemudian datang orang yang keempat menginformasikan, “Ya Abu Darda’, setiap kali api akan menjilat rumahmu langsung padam.” (Hr.Thabrani).

3. Musthafa Ahmad alHajj, seorang shantri Ma’hâdul ‘Ibâdah al-Islâmi Tambak Bening Surabaya Indonesia (MIITSI), mobil kijangnya pernah dibobol pencuri di Pasar Turi Surabaya.
Dia sangat keheranan, mengapa yang diambil pencuri itu justru barang-barang yang akan disedekahkan kepada fakir miskin, yang nilainya tidak seberapa mahal, cuma Rp.1.600.000,00.
Sedangkan barang-barang lain yang lebih mahal tidak diambilnya. Dia bergumam dalam hatinya, “Ini Allah menguji aku. Ya Allah, kuatkanlah imanku.”
Berceritalah dia kepada isterinya mengenai kejadian tersebut, “Dik, barang-barang yang kita beli untuk dibagi-bagikan itu telah diambil pemiliknya.”
Isterinya menjawab, “Baguslah kalau begitu, kita tidak repot-repot membagikannya.”
Inilah dialog tauhid yang indah karena tetap husnudlan dengan Allah swt.
Ternyata esok harinya telah diganti oleh Allah swt dengan beberapa kali lipat dari nilai Rp.1.600.000,00. Sehingga dia dapat bersedekah lebih banyak lagi.

Pelajaran Yang Diambil
Kuatnya tauhid akan membawa kepada indahnya kebahagian hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Oleh karena seorang ibadurrahman benar-benar menempa pribadinya supaya memiliki kekuatan tauhid. Sebab seorang ibadurrahman sangat berhasrat mendapatkan kebahagiaan hidupnya, baik ketika masih di dunia terlebih setelah kematiannya.
Untuk itu mari kita renungkan pernyataan tauhid yang suci dari seorang ulama di jaman Nabi Yunus as:

“Dengan menyebut asma Allah, segala yang terjadi karena kehendak Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Segala yang terjadi karena kehendak Allah, setiap kenikmatan datangnya dari sisi Allah. Segala yang terjadi karena kehendak Allah, kebaikan itu seluruhnya berada di tangan Allah. Segala yang terjadi karena kehendak Allah, tidak ada yang dapat menolak kejahatan melainkan dengan pertolongan Allah” (Lihat Kitâb az-Zuhdu, yang ditulis Imam Ahmad bin Hambal ra). []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar