Kamis, 02 September 2010

Menyelami Ayat-Ayat Allah

Dinul Islam memberikan sebuah pengantar kepada umat manusia, dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan keislamannya dengan cara melalui pemahaman ayat-ayat Allah swt, yang berupa ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah; atau ayat-ayat yang tersirat dan ayat-ayat yang tersurat; atau ayat-ayat takwiniyah dan ayat-ayat tanziliyah. Kesemuanya itu merupakan dasar pemikiran seorang hamba Allah yang harus dijadikan hujjah dalam meniti kehidupannya, guna mengejawantahkan sikap diniah di dalam keberagamaan kesehariannya.
Inilah tradisi kehidupan seorang ibadurrahman yang benar-benar menyelami keindahan, nasehat, petunjuk, dan kekuatan al-qur`an. Bahkan, tidak sekadar itu, baginya ayat-ayat Allah merupakan sumber referensi dan inspirasi yang kuat di dalam kehidupannya. Sebagaimana Allah swt telah mengapresiasinya dalam firman-Nya,

“Dan, para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 73; 75-77).

Ayat Kauniyah & Ayat Qauliyah
Dinul Islam mengajarkan bahwa ayat-ayat Allah swt, dilihat dari keberadaannya secara fungsional ada dua kelompok, yakni ayâtul-kauniyyah (tersirat secara takwin) dan ayâtul-qauliyyah (tersurat secara tanzil).
1. Ayâtul-kauniyyah.
Maksudnya, Allah swt telah menggelar secara takwiniah ayat-ayatnya di seluruh alam universum ini. Yang secara tersirat telah menunjukkan keberadaan dan kekuasaan-Nya, bahwa Allah swt benar-benar Mahaperkasa.
Sebagaimana hal itu telah dibuktikan dengan keberadaan planet bumi di antara planet-planet yang lain, keberadaan matahari dan bulan, keberadaan bintang dan udara, keberadaan air dan api, dan keberadaan umat manusia dengan alam lingkungan biotik dan lingkungan abiotiknya.
Bagi seorang ibadurrahman realitas tersebut di atas dijadikan hujah, bahwa Allah-lah Sang Penguasa kehidupan. Sehingga dikehidupannya mengambil jalan terbaik yang ditempuhnya, yakni dengan memperbanyak rasa syukur dan meningkatkan pengabdiannya. Yang kemudian diimplementasikannya dengan: sikap ketauhidan yang kuat, sikap ibadah yang kuat, sikap mahabah yang kuat, dan sikap berusaha yang kuat.
Keempat sikap tersebut di atas sebagai hasil dari perilaku apresiasinya terhadap ayat Allah swt,

“Dan, apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (Qs.al-A’râf: 185).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang menggunakan akal-(nya). (Dia itu adalah): orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring; dan mereka (selalu) memikirkan mengenai penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan (kesemuanya) ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Qs.Ali Imran: 190-191).

“Dan, pada diri kalian, maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (Qs.adz-Dzariyat: 21).

“Katakanlah!” “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (Qs.Yunus:101).

2. Ayâtul-qauliyyah.
Maksudnya, Allah azza wa jalla secara tanziliah telah menunjukkan kekuasaan-Nya, keperkasaan-Nya, dan kebesaran-Nya dengan tersurat, pada kitab-kitab dan shuhuf-shuhuf para rasul-Nya yang berupa wahyu Allah swt.
Pada kitab-kitab dan shuhuf-shuhuf tersebut, Allah swt telah mengenalkan diri-Nya. Tidak hanya itu, cerita masa lalu, berita ghaib, karakter para hamba-Nya yang mukmin; munafik; dan musyrik, bagaimana strategi memahami kehidupan dunia yang fana, bagaimana seharusnya mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depannya di akhirat, serta bagaimana umat manusia harus mengapresiasi di kehidupannya; baik terhadap sesama manusia, terhadap hewan, terhadap tumbuhan, terhadap lingkungan ekosistim, dan terhadap makhluk-makhluk Allah yang lainnya, seperti: malaikat dan jin sekalipun. Allah swt telah menguraikannya di dalam kitab suci-Nya tersebut dengan sebenar-benarnya.
Berita yang di bawa oleh para rasul-Nya yang terdapat di dalam kitab suci, yang di akhiri dengan diturunkannya kitab suci al-qur`an. Secara qauliyah, artinya dapat dibaca atau diucapkan, merupakan buku pandu bagi para hamba Allah yang benar-benar telah mukmin kepada-Nya.
Demikianlah seorang ibadurrahman menempatkan kedudukan kitab suci al-qur`an tersebut dalam kehidupan kesehariannya. Karena memang Allah swt telah menyatakan,

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (mewahyukan) al-qur`an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya, kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya. Lalu menjadi tenang kulit dan kalbu mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pemberi petunjuk baginya” (Qs.az-Zumar: 23).

“Dan, Kami turunkan kepadamu al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan, petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (Qs.an-Nahl: 89).

“Dan, apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab, sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam (al-Kitab) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Qs.al-Ankabut: 51).

“Dan, sesungguhnya telah Kami mudahkan al-qur`an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs.al-Qamar: 17).

Termasuk Yang Mana Diri Kita
alfaqir selalu menasehatkan kepada seluruh shantri dan jamaah di nDalem Kasepuhan, “Tidaklah kalian duduk dalam suatu majelis untuk mendengarkan al-qur`an, melainkan kalian keluar dengan suatu tambahan atau pengurangan. Karena Allah telah berfirman kepada kita,

“Dan, Kami turunkan dari al-qur`an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan, al-qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dlalim selain kerugian”.” (Qs.al-Isrâ`: 82).

“Katakanlah!” “al-Qur`an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan, orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan al-qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu seperti orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh” (Qs.Fushshilat: 44).

Sekarang marilah kita jujur terhadap diri kita sendiri, untuk memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan, guna mengetahui posisi keberadaan kita terhadap kitab suci al-qur`an tersebut. Dalam golongan manakah kita menempatkan diri terhadap al-qur`an? Semakin bertambahkah keimanan kita, di saat mendengarkan atau membaca ayat suci al-qur`an? Tergerakkah kalbu kita, bila ayat-ayat suci al-qur`an dibacakan, atau di saat kita sedang membacanya? Meneteskah air mata kita? Ataukah, kita tidak pernah mendapatkan pengaruh apa-apa dari untaian ayat-ayat Allah tersebut?
Terhadap al-qur`an, orang-orang kafir dan munafik tidak mau mendengarkan ajakannya, seruannya, perintahnya, maupun larangannya. Mereka dengan sengaja mengabaikan ayat-ayat Allah tersebut. Seperti difirmankan Allah swt,

“Dan, di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi pengetahuan (yakni, para sahabat Nabi), ‘Apa yang dikatakannya tadi?’ Mereka itulah orang-orang yang telah dikunci mati kalbu mereka oleh Allah, (karena selalu) mengikuti hawa nafsu mereka” (Qs.Muhammad: 16).

Seorang mukmin, apalagi seorang ibadurrahman, selalu membuka kalbunya terhadap al-qur`an, membuka telinganya lebar-lebar, serta membuka akal budinya dengan seluas-luasnya guna mengharap rahmat, hidayah, dan taufik-Nya. Sebagaimana telah dikabarkan oleh Allah swt,

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yakni para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Mahapemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (Qs.Maryam: 58).

Nasehat & Teladan
Dalam rangka meningkatkan ma’rifatul-qur`an, hendaklah kita mengapresiasikan sekaligus mengekspresikan al-qur`an ke dalam bentuk perilaku yang indah lagi simpatik. Sebagaimana hal itu telah dinasehatkan dan di teladankan para pendahulu kita.
1. Sahabat Ibnu Mas’ud ra.
Pernah dia menasehatkan, “al-Qur`an diturunkan kepada mereka agar mereka mengetahuinya dan mengambil pelajaran darinya untuk diamalkan. Ada seseorang di antara kalian yang membaca al-qur`an dari awal sampai akhir, tanpa ada satu huruf pun yang tercecer. Namun dia mencecerkan pengamalannya.”

2. Imam Syafi’i ra.
Dia menasehatkan kepada kita, “Sesungguhnya di dalam al-qur`an itu ada satu surat yang singkat, dan sekiranya manusia mengamalkannya, maka hal itu sudah cukup baginya. Yakni firman Allah,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”.” (Qs.al-‘Ahsr: 1-3).

3. Seorang Arab.
Ada seorang Arab Badui menemui Nabi saw meminta kepada beliau, supaya dibacakan al-qur`an untuknya.
Maka, beliau saw membacakan beberapa surat pendek di bagian akhir al-qur`an hingga sampai pada surat az-zalzalah. Di saat beliau membaca dua ayat yang terakhir,

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan, barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula” (Qs.al-Zalzalah: 7-8).

Maka, si badui tersebut serta-merta berkata, “Cukup wahai Rasulullah, aku tidak peduli untuk mendengarkan selain dua ayat ini.”
Maksudnya, dua ayat tersebut sudah cukup untuk dijadikan hujah, bahwa balasan itu termasuk jenis amal dan disesuaikan dengan amalnya, meskipun amal itu seberat dzarrah, baik maupun buruk.
Maka, para sahabat Nabi saw merasa heran dengan sikap si badui tersebut. Lalu Nabi saw bersabda,

“Orang itu telah pergi sebagai orang yang mengerti.”

4. Abdullah bin Urwah bin az-Zubair ra bertanya kepada neneknya, Asma` binti Abu Bakar ra, “Wahai nenek, apa yang dilakukan para sahabat jika mereka mendengarkan al-qur`an atau membacanya?”
Asma` menjawab, “Wahai cucuku, mereka seperti yang digambarkan Allah. Mata mereka meneteskan air mata. Kulit mereka bergetar dan kalbu mereka tunduk.”
5. Dr.Sir.Muhammad Iqbal ra pernah menasehatkan, “Tidak ada satu pun nasihat yang lebih berharga daripada nasihat yang disampaikan ibu kepadaku selagi aku masih kecil. Ibuku menasehatkan, ‘Wahai anakku, bacalah al-qur`an! Yang seakan-akan al-qur`an itu diturunkan kepadamu’.”

Pelajaran Yang Diambil
Guna menradisikan al-qur`an dalam kehidupan keseharian di keluarga dan masyarakat, Ma’hâdul ‘Ibâdah al-Islâmi Tambak Bening Surabaya Indonesia (MIITSI) membentuk Tim 30 Kalamullah, yang berupaya sekuat tenaga untuk menradisikan ber-qur`an pada shantri dan keluarga jamaah khususnya, serta masyarakat pada umumnya.
Di mana al-qur`an bukan sekadar menjadi bahan perbincangan, tetapi lebih dari itu, ada upaya nyata untuk mengamalkannya dalam kehidupan keberagamaan keseharian seorang mukmin.
Hal ini kami lakukan, sebagai bentuk pembaharuan sikap terhadap al-qur`an, supaya di dalam kehidupan kita semakin menyatu dengan al-qur`an. Karena kami tidak ingin pada Hari Kiamat besok, al-qur`an akan memberikan persaksiannya dengan mengatakan, “Wahai Rabb, ketika masih hidup dulu orang-orang ini meremehkan aku. Membacanya, tetapi tidak masuk ke kalbunya. Bahkan tidak mau berhukum kepadaku.”
Di samping kami juga takut, bila Nabi saw akan berkata, “Wahai Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan al-qur`an sesuatu yang tidak pernah diperhatikannya.”
Seorang ibadurrahman adalah orang yang kehidupannya telah menyatu dengan al-qur`an, dengan ayat-ayat Allah swt. Dia hidup bersama al-qur`an. Menerapkan isinya untuk diri dan keluarganya, dengan memola pada kehidupan Rasulullah saw, dalam hal ber-qur`an. “Akhlak beliau adalah al-qur`an,” demikian komentar ibunda A`isyah ra.
Barangsiapa yang mau membuka lembaran-lembaran mush-haf al-qur`an, maka dia akan menemukan akhlak beliau saw pada teks-teks tersebut. Diri Nabi saw merupakan sosok pribadi dari al-qur`an yang berjalan. Beliau tidak sekadar menafsirinya dengan perkataan dan ungkapan, namun beliau telah meneladankan dengan wujud nyata ke dalam sebuah perilaku, akhlak, amal, dan implementasi yang kongkrit.
Wahai saudaraku sesama mukmin! Sudahkah kita membaca al-qur`an sebagaimana mestinya? Sudahkah kita menyimaknya dengan layak? Sudahkah kita memenuhi hak-hak sebagaimana seharusnya? Siapakah yang telah mampu mendengarkan atau membacanya, lalu memikirkan dan mengamalkannya, di antara kita? Sudahkah kita merasakan pengaruh dari kehadirannya? Marilah, sederetan pertanyaan ini kita jawab dengan bukti pengamalan terhadap al-qur`an dalam kehidupan kita sehari-hari. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar