Allah swt telah menyifati seorang ibadurrahman, yang kelima, dengan sifatnya yaitu: sederhana di dalam membelanjakan harta bendanya. Seperti telah difirmankan-Nya,
“Para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kebaikan. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 67, 75-77).
Seorang ibadurrahman tidak mesti miskin papa tanpa harta benda. Tetapi sebaliknya, banyak dari mereka justru termasuk orang-orang yang kaya raya. Mereka inilah yang oleh Allah swt disifati dengan,
“Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak pula oleh jual beli; dari mengingat Allah” (Qs.an-Nûr: 37).
Seorang ibadurrahman sangat memahami dan benar-benar mempraktekkan hak dan kewajiban terhadap harta benda yang dimilikinya. Mereka adalah seorang hamba yang telah berhasil memadukan secara harmoni, antara “gerak thawwaf materi” dengan “gerak thawwaf ruhani”. Sehingga dikehidupannya benar-benar telah mengalami sinkronisasi kebutuhan, yang pada akhirnya mereka mempunyai dinamika kehidupan “gerak thawwaf rabbani”. Seperti telah menjadi seruan Allah swt terhadap para hamba-Nya yang beriman,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah” (Qs.al-Munâfiqûn: 9).
Bagi seorang ibadurrahman, proses kehidupan di dunia haruslah seimbang lagi sederhana dalam segala hal dan kesempatan. Seorang ibadurrahman adalah seorang hamba Allah swt yang profesional hidupnya. Di mana kehidupan dunianya, ditata sedemikian rupa, sehingga benar-benar menjadi fasilitas kehidupan akhiratnya.
Dia sebagaimana layaknya manusia yang lainnya, memiliki anak, isteri, dan harta benda. Tetapi seorang ibadurrahman tidak mudah terbuai dengan kesenangan-kesenangan sesaat (temporal). Karena di dalam benaknya selalu terpatri, bahwa setelah kehidupan dunia masih ada lagi kehidupan yang lebih kekal; dan dia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan harta miliknya di hadapan Sang Pemilik Kehidupan, Allah Jalla Jalâluh.
Keberadaan dirinya, kehidupannya, dan harta bendanya; merupakan sesuatu yang harus disyukuri, karena kesemuanya itu adalah anugerah dari Allah swt yang mesti dinikmatinya. Seorang ibadurrahaman senantiasa sadar, bahwa seluruh yang dimilikinya merupakan titipan saja dari Allah swt, agar dia mampu mengurusnya, dan pasti suatu saat akan dimintai pertanggungjawabannya.
Dari kesadarannya itulah, maka seorang ibadurrahman mempunyai sikap yang jelas terhadap harta benda yang dimilikinya.
Pertama, dia tidak mau kikir, bila suatu saat diberi kenikmatan Allah yang berupa limpahan harta benda.
Kedua, dia tidak mau bergaya hidup mewah dengan perilaku boros dan suka menghambur-hamburkan harta bendanya, bila suatu saat diamanahi Allah dengan kekayaannya. Karena dia memegang teguh wasiat Allah swt yang telah tertera di dalam Kitab Suci-Nya,
“Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, orang yang dalam perjalanan; dan, janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta benda) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan; dan, setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabb-nya. Dan, jika kalian berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabb kalian yang kalian harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. Dan, janganlah kalian jadikan tangan kalian terbelenggu pada leher kalian. Dan, janganlah kalian terlalu mengulurkannya, karena itu kalian menjadi tercela lagi menyesal” (Qs.al-Isrâ`: 26-29).
Oleh Rasulullah Muhammad saw, tipologi hamba Allah inilah yang hidupnya dalam kategori: sederhana, faqih pengetahuannya, dan selalu berkecukupan.
Diriwayatkan sahabat Hudzaifah ra, Nabi saw bersabda,
“Alangkah baiknya kesederhanaan di saat kaya. Alangkah baiknya kesederhanaan di saat miskin. Dan, alangkah baiknya kesederhanaan dalam beribadah” (Hr.Bazzar).
Sahabat Abu Darda` ra juga meriwayatkan, bahwa Nabi saw pernah bersabda,
“Di antara pengetahuan seseorang, adalah kesederhanaannya dalam hidupnya” (Hr.Ahmad).
Juga sahabat Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan, Nabi saw pernah bersabda,
“Tidak akan kekurangan nafkahnya orang yang hidup sederhana” (Hr.Ahmad).
Inilah sebuah keyakinan yang diimani oleh seorang ibadurrahman, bahwa di dalam kehidupannya dia harus sederhana, mengambil jalan tengah dalam membelanjakan harta bendanya, melakukan saving dan investasi terhadap harta bendanya, menjauhi sifat ketergantungan kepada orang lain, dan selalu berkerja keras. Namun dia tetap memenuhi kewajiban-kewajiban syar’i-nya atas harta benda yang dimilikinya, seperti: menunaikan zakat, infak, shadaqah, dan jariahnya. Hal ini telah jelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya,
“Dan, mereka bertanya kepada kalian, apa yang mereka nafkahkan? Katakanlah! ‘Yang lebih dari keperluan’.” (Qs.al-Baqarah: 219).
Di sinilah Allah swt memuji salah seorang sahabat Anshar, yang jauh lebih mengutamakan saudaranya orang-orang Muhajirin, ketimbang dirinya sendiri.
“Dan, mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri (sahabat Anshar), sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan, barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Qs.al-Hasyr: 9).
“Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan ‘wajah Allah’ (keridlaan Allah). Kami tidak menghendaki balasan dari kalian (orang-orang Muhajirin) dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut azab Rabb kami, pada suatu hari yang pada hari itu orang-orang yang bermuka masam penuh kesulitan” (Qs.al-Insân: 9-10).
Keteladanan
Sebagai teladan (uswah) kita dalam hal kesederhanaan membelanjakan harta. Ada beberapa perilaku indah yang patut untuk diteladaninya, antara lain:
1. Imam al-Laits bin Sa’ad ra termasuk salah seorang muslim yang kaya raya.
Pendapatannya dalam setahun dapat mencapai delapan puluh ribu dinar. Tetapi dia tidak pernah terkena wajib zakat. Dikarenakan harta benda yang dimilikinya tidak pernah genap selama satu tahun. Di mana dia selalu menyedekahkan setiap kali harta itu terkumpul.
“Harta berasal dari Allah dan harus disalurkan kepada para hamba Allah,” demikian pendapatnya.
Dikisahkan, suatu hari ada seorang perempuan yang menemuinya untuk meminta sedikit madu. Seketika itu dia meminta tolong pelayannya untuk mengambilkan madu, guna diberikan kepada si perempuan tersebut. Tetapi dia memberinya dalam jumlah yang sangat banyak. Ada salah seorang rekannya yang berkomentar, “Perempuan itu meminta setetes dua tetes madu kepadamu, namun kamu memberinya sebejana.”
Imam Laist menjawab, “Dia meminta menurut kadar keperluannya, dan aku memberinya menurut kadar nikmat Allah yang diberikan kepadaku.”
Demikianlah Imam Laist benar-benar telah mampu mengamalkan sabda Nabi saw,
“Sesungguhnya Allah suka melihat pengaruh nikmat-Nya atas dirimu” (Hr.Tirmidzi dan Hakim).
Di samping juga mempraktekkan firman Allah swt,
“Dan, terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” (Qs.adh-Dhuhâ: 11).
2. Adalah Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib ra, merupakan salah satu dari deretan sahabat Nabi saw yang dianugerahi kekayaan yang berlimpah.
Dalam kehidupan kesehariannya, dia mempunyai kebiasaan perilaku dermawan. Di mana setiap pengemis yang datang kepadanya tidak pernak ditolaknya. Suatu ketika dia dicela oleh seseorang yang hasud kepadanya, dengan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang kikir.
Abdullah menjawab, “Sesungguhnya Allah memberikan suatu kebiasaan kepadaku, dan ada pula suatu kebiasaan yang membuat para hamba-Nya terbiasa dengan sesuatu. Allah biasa memberiku dan aku biasa memberi para hamba-Nya, dan aku takut jika kebiasaanku ini terputus. Sehingga Allah juga memutus kebiasaan-Nya terhadap diriku.”
3. Di jamaah nDalem Kasepuhan Tambak Bening, Surabaya namanya Musthafa Ahmad alHajj, selalu menangis bersama isterinya, bila tiba waktu sepertiga akhir malam, di saat shalâtul-lail. Mereka sangat takut dengan istidraj Allah swt.
Tidak hanya itu, tempat tidurnya yang bagus dan kursi tamunya, sampai arlojinya yang ber-merk; dibagikan kepada para tetangga dan para teman jamaahnya. Dia dan keluarganya sangat menikmati kesederhanaan dan kesahajaan. Segala sesuatu yang disedekahkan kepada orang lain, senantiasa dicarikan yang terbaik.
Suatu ketika puteranya (Muhammad Ghalib Abdurrahman, red) yang masih duduk di bangku SD, pernah bercerita kepada ibunya. “Buk, teman-teman itu banyak lho yang mobilnya tiga, mewah lagi.”
Ibunya menjawab dengan nada menghibur, “Sudahlah jangan biasakan melihat orang lain. Mestinya kamu harus bersyukur. Pergi dan pulang sekolah sudah di antar jemput, walau mobil kijang-mu ketinggalan tahun, syukuri sajalah. Panas tidak kepanasan, hujan tidak kehujanan, dan terhindar dari debu.”
Biasa dipanggil mbah Haji Syahlan, juga jamaah nDalem Kasepuhan, suatu hari mengalami musibah kecil. Di mana mobil yang dia kendarai, ditabrak vespa dari belakang. Anak muda yang mengendarai vespa sangat marah, karena merasa vespanya penyok. Padahal dilihat dari kesalahannya, anak muda itu yang salah karena menabrak dari belakang. Semestinya yang marah mbah Syahlan, tapi justru tidak marah, malah bertanya, “Mas, ada yang rusak?”
Sambil membentak pemuda itu berkata, “Saya minta ganti rugi lima puluh ribu rupiah.”
Tanpa banyak kata, mbah Syahlan memberinya delapan puluh ribu rupiah. Akhirnya, pemuda tersebut ngeloyor sambil menahan malu.
Antara Musthafa Ahmad alHajj dan Muhammad Syahlan alHajj sama-sama takut terhadap perilaku kikir, sehingga di sisi Allah mereka tidak mendapatkan keberuntungan. Seperti difirmankan Allah swt,
“Dan, siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Qs.al-Hasyr: 9).
Pelajaran Yang Dapat Diambil
Sebagai seorang ibadurrahman, dia sangat takut dengan firman Allah swt,
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri, yaitu: Orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir (1); (Orang-orang yang) menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka, dan Kami telah menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan (2); Juga orang-orang yang menafkahkan harta bendanya dengan riya` kepada manusia (3); dan, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah serta Hari Akhir (4). Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya” (Qs.an-Nisâ`: 36-38).
Ayat di atas telah memberikan sifat yang tercela kepada seorang hamba Allah yang memilikinya. Di mana Allah swt telah menyifatinya dengan perilaku kikir, di saat yang sama Allah juga telah menyifatinya dengan perilaku sombong lagi riyâ`.
Belum banyak yang sadar, bahwa kaum muslimin Indonesia sebenarnya masih banyak yang terhinggapi penyakit kikir untuk urusan-urusan kewajiban dinul Islam. Sebaliknya, sangat boros untuk urusan-urusan pemenuhan hawa nafsu.
Sudah saatnya kita melakukan introspeksi diri, guna mengaca eksistensi kepribadian keislaman kita. Sudahkah melakukan tindakan-tindakan penyelamatan dan tindakan-tindakan efesiensi? Hal ini penting, karena harta benda yang kita miliki sebenarnya hanyalah sekadar fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan, harta benda itu memang titipan dari-Nya, adalah kewajiban kita untuk menunaikan akan hak-hak atas harta benda yang kita miliki.
Potret seorang ibadurrahman, adalah seorang hamba Allah yang benar-benar menjaga penggunaan harta bendanya, antara boros dan kikir. Dia selalu mengambil jalan tengah dalam segala hal dalam aspek kehidupannya. Jalan tengah inilah akhlak dinul Islam yang sebenarnya.
Renungkan teguran Rasulullah Muhammad saw kepada sahabat beliau, Sa’ad ra yang sedang menunaikan wudlu.
“Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam menggunakan air!”
Sa’ad bertanya, “Apakah ada istilah berlebih-lebihan dalam menggunakan air?”
Beliau menjawab, “Benar, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.”
Ditegaskan beliau, “Dinul Islam itu mudah, maka barangsiapa mencoba-coba untuk mengalahkannya pasti dinul Islam dapat mengalahkannya” (Dari Abu Hurairah ra, Kitâb Mukhtârul Ahâdis, no.614, hal.71).
Nabi saw juga bersabda,
“Hemat di dalam berbelanja merupakan sebagian dari penghidupan. Bersikap kasih-sayang terhadap orang lain merupakan sebagian dari akal. Dan, bertanya dengan cara yang baik merupakan sebagian dari pengetahuan” (Hr.Thabrani, dari Ibnu Umar ra). []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar