Kamis, 02 September 2010

Tidak Bersumpah Palsu

“Dan, para ibadurrahaman itu (adalah): …Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 72; 75-77).

“Orang-orang yang tidak memberi kesaksian palsu” (al-ladzîna lâ yasyhadûnaz-zûra).
Maksudnya adalah mereka orang-orang yang memberikan persaksian palsu, berbohong, dan melakukan rekayasa atas sebuah kesalahan hingga seolah tampak benar.
Seorang ibadurrahman tidak mau terjerumus pada dosa besar ini. Disebabkan Nabi saw menyetarakan kesaksian palsu itu dengan syirik kepada-Nya.

“Kesaksian palsu disetarakan dengan syirik kepada Allah” (Hr.Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Bahkan Nabi saw juga mengajarkan supaya membela saudara mukminnya yang lagi diumpat,

“Apabila seorang lelaki dijatuhkan, dan kamu termasuk di antara sekumpulan orang (yang menjatuhkannya), jadilah kamu penolong lelaki itu. Dan, cegahlah mereka (yakni kaum yang menjatuhkannya). Lalu tinggalkan mereka” (Hr.Ibnu Abud Dunya, dari Anas ra).

Seorang ibadurrahman adalah hamba Allah yang senantiasa memberikan kesaksian yang benar. Sekali pun akibat dari kesaksiannya itu akan memberatkan dirinya, anak-anaknya, keluarganya, atau kerabatnya. Hubungan yang jauh dan permusuhan dengan musuh tidak menghalanginya untuk tetap memberikan kesaksian dengan sebenar-benarnya. Dikarenakan dia memegang firman-Nya,

“Dan, janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (Qs.al-Mâ`idah: 8).

“Dan, apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendati pun dia adalah kerabatmu” (Qs.al-An’am: 152).

Tidak Berdusta
Manakala seorang ibadurrahman dimintai suatu persaksian, maka dia tidak akan berdusta, akan disampaikannya yang benar adalah benar, yang hak tetaplah hak. Dihindari jauh-jauh perilaku khianat, berbohong, dan menipu.
Seorang ibadurrahman selalu berkata atas dasar kecakapan ilmu pengetahuan yang diamalkan dan yang telah diyakininya; dia tidak pernah menyalahinya, apalagi untuk menambah atau menguranginya. Kalau ya dikatakannya ya, bila tidak dia pun akan mengatakannya tidak. Karena dia sangat memahami firman Allah swt,

“Janganlah para saksi itu enggan (memberi keterangan), jika mereka dipanggil” (Qs.al-Baqarah: 282).

Adakalanya sebagian hamba Allah itu yang tidak ingin melakukan perilaku berdusta. Tetapi dia lebih memilih untuk menyembunyikan kesaksiannya yang nyata-nyata benar sebagai fakta.
Bagi seorang ibadurrahman perilaku ini pun akan ditinggalkannya, karena dia lebih memilih mengamalkan pesan-Nya,

“Dan, janganlah kalian menyembunyikan kesaksian. Dan, barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya. Dan, Allah Mahamengetahui apa yang kalian kerjakan” (Qs.al-Baqarah: 283).

Dari tindakan menyembunyikan persaksian, maka akan berakibat, di antaranya dapat menghilangkan hak, atau boleh jadi malah membantu tindak kejahatan, tindak kemaksiatan, dan tindak kebatilan. Bahkan yang sangat berbahaya, bisa jadi kehidupan syariat dinul Islam mengalami kemandegan, atau mungkin dunia akan mengalami keterbengkelaian. Oleh karena dinul Islam menetapkannya sebagai dosa besar, perilaku menyembunyikan persaksian.

“Dan, siapakah yang lebih dlalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Dan, sekali-kali Allah tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan” (Qs.al-Baqarah: 140).

Guru kita Syekh Yusuf Qardhawi mengomentarinya, “Berapa banyak hak yang disia-siakan? Berapa banyak hal-hal haram yang dilanggar? Berapa banyak kehormatan diri yang dinodai? Berapa banyak kaum yang tertindas? Semua ini terjadi karena kesaksian yang benar disembunyikan. Begitu banyak orang yang membelenggu lidahnya, tidak mau mengatakan yang benar. Padahal kebenaran itu dituntut dari mereka. Tapi nyatanya mereka tidak mengatakan kebenaran itu dengan lidah dan penannya, justru ketika mereka diharapkan untuk memberikan kesaksian yang sebenarnya. Karena kesaksian yang benar inilah kalimat Allah menjadi tinggi di dunia. Orang-orang yang memberikan kesaksian yang benar adalah mereka yang berdiri tegak dengan kesaksiannya, tidak peduli apa yang akan menimpanya, tidak takut terhadap celaan orang yang biasa mencela, tidak takut terhadap apa yang ditakuti manusia; karena biasanya manusia takut hartanya akan berkurang, rizekinya akan terampas, umurnya akan terkurangi, jika mereka memberikan kesaksian yang benar. Padahal umur dan rizeki sudah ditetapkan Allah bagi setiap orang, yang tidak akan terkurangi sedikit pun dan ajal juga tidak bisa ditunda sedetik pun atau dimajukan.”

Ingat Pesan Nabi saw
Imam Bukhari ra dan Imam Muslim ra meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Abu Bakar ra, bahwa Nabi saw pernah bersabda,

“Bagaimana jika aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” (Nabi saw mengulanginya sampai tiga kali).
Kami menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
Saat itu beliau dalam keadaan bersandar. Lalu beliau duduk. Mengingat pentingnya masalah yang disampaikan, seraya bersabda lagi, “Ketahuilah! Dan, perkataan palsu dan kesaksian palsu.”
Beliau terus-menerus mengatakannya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” Kami berkata seperti itu karena merasa kasihan kepada beliau.

Memang beliau biasa mengulang perkataan hingga tiga kali, jika sabda beliau dianggap sangat penting, untuk mengingatkan akal dan hati. Jika di sana ada orang sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak mendengar penyampaian yang pertama, maka beliau mengulangnya hingga orang itu mendengar dan memikirkannya, sehingga benar-benar tertanam di dalam hati.
“Perkataan palsu dan kesaksian palsu,” dapat juga berarti: perilaku syirik, perilaku dusta, perbuatan yang tidak ada manfaatnya, tindakan batil, tindakan durhaka, atau aksi tipu-tipu. Oleh karena dinul Islam melarang seorang muslim secara syara’ untuk tidak menghadiri kesaksian palsu, tidak duduk dalam suatu pertemuan yang direkayasa dengan persaksian palsu, dan tidak diperbolehkan pergi ke tempat yang penuh dengan kesaksian palsu.
Apa pun maknanya, dan berbagai macam ragamnya, “perkataan palsu dan kesaksian palsu.” Maka, seorang ibadurrahman tidak akan pernah hadir dalam majelis mereka, dan tidak akan pernah mau kompromi dengan mereka dalam rangka menjastifikasi kesaksian palsu mereka sebagai tindakan yang legal.
Karena seorang ibadurrahman telah mengamalkan firman Allah swt,

“Apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya” (Qs.al-Furqân: 72).

Di sinilah seorang ibadurrahman memiliki prinsip keberagamaan yang tegas dalam kehidupan kesehariannya, “Barangsiapa yang mendatangi tempat-tempat kebatilan dan kekejian, maka dia akan terimbas oleh dosa-dosa yang telah dilakukan di tempat-tempat tersebut.”
Maka, secara filosofis dinul Islam menyatakan, “Jika dinul Islam telah mengharamkan sesuatu, maka dia juga mengharamkan apa pun yang menjurus kepada keharaman itu dan yang membantunya. ‘Dan, sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam al-qur`an, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka (Qs.an-nisâ`: 140)’.”

Pelajaran Yang Diambil
Pernah terjadi di jaman Khalifah Umar bin Khaththab ra, ada beberapa orang yang dijatuhi hukuman karena telah meminum khamr. Tetapi ada satu orang yang tidak ikut minum khamr, melainkan dia hanya duduk-duduk saja bersama para temannya yang sedang asyik minum khamr.
Khalifah Umar bin Khaththab ra berkata, “Dia sedang berpuasa dan duduk-duduk bersama orang-orang yang meminum khamr dan berada di majelis khamr. Mulai hukuman dari orang itu.”
Khalifah Umar menetapkan hukuman yang demikian, didasarkan pada ayat-Nya yang berbunyi,

“Dan, sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam al-qur`an, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka” (Qs.an-Nisâ`: 140).

Karena memang tidak layak dan bukan pada tempatnya, bila seorang mukmin duduk atau berada pada majelis kemungkaran dan keburukan. Nabi saw telah bersabda,

“Dan, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka janganlah dia duduk di meja makan yang di sana diedarkan khamr” (Hr.Nasâ`i & Hakim).

Seorang ibadurrahman adalah seorang hamba Allah yang berpendirian teguh untuk tetap menjauh dari segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena dia sadar, bahwa dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan dosa akan berdampak langsung pada lingkungannya. Di sinilah seorang ibadurrahman tidak berani mengambil resiko untuk terlibat dan ikut serta menanggung dosanya.
Seorang ibadurrahman benar-benar menjaga kehormatan tauhidnya, ibadahnya, dan mahabbahnya; tanpa harus melakukan sikap kompromis terhadap kebatilan, kemungkaran, keburukan, dan kemaksiatan. Dia malu kepada diri dan Rabb-nya, manakala harus bergabung dengan majelis kemungkaran. Umurnya terlalu mahal, bila dibuang secara cuma-cuma dengan dalih kemoderenan tapi harus menggadaikan akidahnya.
Seorang ibadurrahman sangat menghargai waktu, karena baginya waktu merupakan modal yang utama. Waktu begitu dihargainya, sehingga tidak ada yang terbuang begitu saja. Sebaliknya dengan secermat dan sedisiplin mungkin untuk menggunakan waktunya dengan perbuatan-perbuatan yang bernilai guna, seperti: bekerja keras mencari rizeki yang halal, dengan tekun mempelajari ilmu pengetahuan keberagamaan keislaman, dan secara istiqamah melaksanakan dzikrullah.
Seorang ibadurrahman yakin, bahwa dengan satu kata seorang hamba akan dapat membangun sebuah istana di dalam surga. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya, maka dia akan menjadi orang yang merugi. Satu kata yang baik dan benar akan memenuhi lembaran kebaikan kehidupannya. Sedangkan satu kata yang buruk lagi keji, akan menghitamkan lembaran-lembaran kehidupannya. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar