Akhlak murah hati adalah karakteristik seorang ibadurrahman yang kedua. Seperti telah diajarkan dalam dinul Islam, bahwa seorang hamba yang merendahkan diri kepada Allah, maka Allah swt akan meninggikan kedudukan hamba tersebut, baik di sisi-Nya maupun di hadapan para makhluk-Nya.
Dalam sifatnya yang kedua ini, seorang ibadurrahman diuji oleh Allah swt dalam menjaga perilaku simpatiknya terhadap para hamba Allah yang jahil lagi bodoh.
“Para ibadurrahman itu (adalah): …Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 63, 75-77).
Seorang hamba yang jahil menurut pandangan al-qur`an, adalah setiap orang yang melakukan pendurhakaan kepada Allah swt. Orang tipe ini di dalam kehidupannya memberi kekuasaan dan keleluasaan terhadap hawa nafsunya. Sehingga kebenaran wahyu Allah dan nasehat-nasehat dinul Islam menjadi terabaikan. Bahkan, tidak jarang orang-orang seperti ini memiliki kecenderungan untuk melawan atau menyeleweng dari ketentuan Allah swt. Disebabkan fasilitas Allah yang berupa akal menjadi tidak berdaya dan takluk di hadapan kekuatan sang nafsu.
Sebagaimana seorang Nabi Yusuf as yang tampan rupawan, secara membabi-buta mendapatkan luapan nafsu birahi seorang Zulaikha yang cantik jelita lagi berkedudukan. Tetapi dengan bimbingan Allah swt dan rahmat-Nya yang agung, beliau terselamatkan dari fitnah yang sangat besar itu. Seperti dikatakannya, “Dan, jika tidak Engkau (Allah) hindarkan aku dari tipu dayanya. Tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginannya. Dan, tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.”
Pribadi seorang yang jahil, adalah pribadi yang pecah (split of personality), tidak ada pegangan dalam hidupnya, cenderung asal bicara lebih dikarenakan suka atau tidak suka. Kehidupannya diwarnai dengan sentimen yang tinggi terhadap orang lain yang tidak disukainya.
Seorang yang jahil mempunyai tabiat mengolok-olok masalah yang prinsip dan mengejek atas kebenaran. Sehingga tidak jarang mereka itu dicap dari jaman ke jaman: sebagai pendurhaka kepada Allah azza wa jalla, orang yang akhlaknya buruk, dan orang yang menuruti hawa nafsunya. Ternyata bumi yang kita diami ini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki tabiat jahil.
Namun, seorang ibadurrahman hatinya dibuat komitmen lagi penuh konsisten (CC) terhadap agamanya oleh Allah azza wa jalla. Sehingga jiwanya tidak begitu menanggapinya. Apalagi merisaukannya di dalam menghadapi orang-orang yang jahil kepadanya.
Sebaliknya, seorang ibadurrahman telah mendapatkan kemuliaan dari Allah swt berupa ke-istiqamah-an kalbu, perilaku, dan kehidupannya. Karena dia telah mampu menjaga istiqamah lidahnya. Nabi saw bersabda,
“Iman seorang hamba tidak istiqamah, sebelum hatinya istiqamah. Hatinya tidak istiqamah, sebelum lidahnya istiqamah” (Hr.Ahmad).
Di sinilah kehidupan seorang ibadurrahman benar-benar telah mendapatkan: ketenangan, ketentraman, segenap aktifitas dapat dijalankannya, tidak ada perasaan putus asa, dan tidak sibuk mengurusi kebatilan orang lain.
Balas Keburukan Dengan Kebaikan
“…Mengucapkan kata-kata yang baik…” Maksudnya, membebaskan ucapan, perkataan, dan lisan dari perbuatan yang dosa dan maksiat kepada Allah swt.
Seorang ibadurrahman semaksimal mungkin menghindarkan perbuatan-perbuatan yang tercela, khususnya tercela ucapannya, tercela perkataannya, dan tercela lisannya.
Seorang ibadurrahman, tidak akan membalas keburukan dengan keburukan. Meskipun dia mempunyai hak untuk membalasnya. Meskipun dia sanggup membalas satu takaran dengan dua takaran. Meskipun dia sanggup membalas satu pukulan dengan dua pukulan.
Tetapi, dia lebih memilih untuk memaafkannya, karena dia sadar bahwa yang dihadapinya adalah orang yang jahil lagi bodoh. Di samping dia memegang teguh prinsip spiritual, “Balaslah keburukan dengan kebaikan’’ (fa turaddus-sayyi`at bil-khairât).
“…Mengucapkan kata-kata yang baik…” Artinya, seorang ibadurrahman selalu mengucapkan perkataan yang benar di hadapan Allah jalla jalaaluh, demi kebahagiaan akhiratnya. Sehingga seluruh aktifitas hidupnya digunakan untuk kepentingan dinul Islam, menolong agama Allah, dan menegakkan kebenaran.
“…Mengucapkan kata-kata yang baik…” Berarti juga, mengucapkan salam sejahtera terhadap ketololannya orang-orang yang jahil.
Sahabat Anas bin Malik ra mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan, “Maksudnya (ayat itu) adalah seseorang yang apabila ada saudaranya mencaci dirinya, maka dia berkata, ‘Jika apa yang kamu katakan ini benar, semoga Allah mengampuni kesalahanku, dan jika apa yang kamu katakan itu dusta, semoga Allah mengampuni kesalahan-mu’.” Seperti diterangkan dalam firman-Nya,
“Dan, apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya. Dan, mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kalian amal-amal kalian; kesejahteraan atas diri kalian, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.” (Qs.al-Qashash: 55).
Demikianlah kondisi ruhaniah seorang ibadurrahman, sangat indah lagi simpatik, “Kami mempunyai jalan sendiri, dan kamu juga mempunyai jalan sendiri. Kami tidak mau meninggalkan jalan kami, untuk tetap berjalan beriringan bersama kamu di jalanmu.”
Karena itu para ibadurrahman tidak pernah menanggapi perilaku orang-orang jahil, meski dirinya dapat dan memiliki hak untuk membalasnya dengan yang serupa. Tetapi dia lebih mengambil jalan yang simpatik, seperti yang sering dilakukan di dalam dakwahnya Nabi saw.
Teladan
Guna menguatkan kehendak dan membulatkan niat kemukminan dan keislaman, agar mempunyai perilaku seorang ibadurrahman, ada baiknya al-faqir sebutkan beberapa teladan yang dapat ditiru, yakni:
1. Adalah Nabi Isa as, suatu ketika beliau lewat didepan sekelompok orang-orang Yahudi, di mana mereka melontarkan kata-kata yang jorok dan tidak senonoh kepada nabiyullah tersebut. Tetapi beliau menanggapinya dengan baik dan santun.
Salah seorang sahabatnya bertanya, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata yang tidak senonoh kepadamu. Namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.”
Beliau menjawab, “Segala sesuatu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.”
Maksudnya, barangsiapa yang di dalam dirinya ada kebaikan, tentu dia akan mengeluarkan kebaikan. Sebaliknya, barangsiapa yang di dalam dirinya hanya ada keburukan, tentu dia akan mengeluarkan keburukan.
2. Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi ra, mengenai cabang-cabang iman, dari Amr bin Syu’aib ra, dari ayahnya, dari kakeknya,
“Apabila Allah sudah menghimpun seluruh makhluk, maka ada penyeru yang berkata, ‘Mana orang-orang yang mempunyai keutamaan?’”
Maka, ada sekumpulan orang yang jumlahnya tidak seberapa banyak, berdiri lalu cepat-cepat pergi ke surga. Mereka disambut para malaikat dengan sambil bertanya, ‘Kami melihat kalian buru-buru pergi ke surga. Siapakah kalian ini?’
Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang memiliki keutamaan.’
Para malaikat bertanya, ‘Apa keutamaan kalian?’
Mereka menjawab, ‘Jika kami didlalimi, maka kami sabar. Jika kami disakiti, maka kami memaafkan. Jika kami dijahili, maka kami menahan diri.’
Lalu dikatakan kepada mereka, “Masuklah surga, dan alangkah nikmatnya pahala orang-orang yang beramal.”
3. Ada seseorang yang menemui sahabat Nabi saw Abdullah bin Abbas ra, langsung mengumpat dan memakinya serta menjelek-jelekkannya. Ibnu Abbas membiarkannya sambil diam. Lalu dia memanggil pelayannya, Ikrimah dan berkata, “Wahai Ikrimah, selidikilah orang itu, apakah dia mempunyai keperluan? Kalau dia mempunyai keperluan, penuhilah keperluannya.”
Seketika itu orang tersebut menundukkan kepalanya, karena merasa malu dengan sahabat Nabi tersebut, akhirnya orang itu beranjak pergi.
4. Ali Zainul ‘Abidin bin Husain bin Ali ra, suatu ketika dia dijelek-jelekkan oleh seseorang yang tidak dikenal. Maka, cucu Nabi saw itu meminta pelayannya untuk memberikan baju yang dipakainya kepada orang yang memakinya, bahkan ditambah dengan uang seribu dirham.
5. Ada seseorang yang mencaci orang lain di dekat Nabi saw. Tapi orang yang dicaci justru berkata kepada orang yang memakinya, “Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu.”
Yang demikian ini sebagai pengamalan terhadap kandungan ayat, “…Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik….”
Lalu, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya ada seorang malaikat di antara kalian berdua yang membelamu. Setiap kali orang itu mencacimu.”
Maka, malaikat berkata, “Kamu dan kamu lebih berhak.”
Tapi ketika kamu mengatakan, “Kesejahteraan atas dirimu.”
Maka, malaikat berkata, “Tidak, tapi pahala bagimu dan kamu lebih berhak.”
Maksudnya, Allah swt mengutus seorang malaikat untuk membela orang yang dicaci itu, yang menahan lidah dan amarahnya, serta tidak mau meladeni cercaan orang yang jahil dengan tindakan yang serupa.
Ibrah
Seorang ibadurrahman sangat berkehendak dengan penuh hasrat, supaya dia termasuk para hamba Allah yang mempunyai keutamaan-keutamaan, seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi saw yang diriwayatkan Imam Baihaqi ra tersebut di atas.
Dinul Islam mengajarkan kepada para pemeluknya, bahwa seorang hamba Allah swt memiliki dua martabat spiritual, yakni: martabat keadilan dan martabat keutamaan. Martabat keadilan, artinya menghadapi keburukan dengan keburukan yang serupa. Sedangkan, martabat keutamaan adalah menghadapi keburukan dengan kebaikan.
Dengan kata lain, ada dua cara dalam bersikap dan berperilaku di dalam menghadapi segala sesuatu, yaitu: cara yang baik dan cara yang lebih baik. Orang tua kami (Qir. Zainuddin Ali Basyah al-Hajj) pernah menasehatkan,
“Maka, tolaklah kejahatan atau keburukan yang menimpamu dengan cara yang lebih baik, dengan perkataan yang paling indah yang kamu miliki, tunjukkan sikapmu yang penuh simpatik lagi toleran (tasamuh), dan biasakan melihatnya dengan kasih-sayang. Insya Allah, dia akan menjadi teman setiamu. Karena manusia itu akan menjadi tawanan kebaikan. Bila, kamu berbuat baik kepada seseorang, maka perbuatan baikmu itu akan mengikatnya. Dan, kemudian kamu akan saling merasa senasib sepenanggungan.”
Untuk itu alfaqir mengajak supaya direnungkan firman Allah swt,
“Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Qs.Fushshilat: 34).
Juga sabda Nabi saw,
“Cintailah kekasihmu secara wajar-wajar saja, barangkali dia kelak menjadi musuhmu. Dan, bencilah orang yang kamu benci dengan sewajarnya (tidak terlalu membencinya), barangkali dia kemudian hari menjadi kekasihmu” (Hr.Tirmidzi, Kitâb Mukhtârul Ahâdis, no.45).
Jadilah pemaaf, yaitu memaafkan seseorang yang memang layak untuk mendapatkannya. Perlakukanlah setiap manusia menurut kesanggupannya, dan jangan sekali-kali menuntut kesempurnaan seorang hamba.
Berpalinglah dari orang yang jahil. Begitulah yang biasa dilakukan orang-orang yang mulia dari umat Nabi Muhammad saw ini, di mana menghadapi keburukan dengan kebaikan. Inilah akhlak seorang mukmin, dia tidak harus menyibukkan dirinya dengan kejahilan seorang yang bertabiat jahil. Seorang mukmin lebih layak menyibukkan diri dengan urusan yang lain, seperti: banyak berdzikrullah, dzikrul-maut, menggeluti majelis ilmu, dan menyibukkan diri dengan mempraktekkan sunnah Rasulullah saw.
Inilah salah satu karakteristik umat Nabi Muhammad saw, umat yang penuh kasih-sayang, kelembutan, murah hati, dan memiliki ilmu. Mereka tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang sepele, remeh, dan yang dapat menimbulkan pertikaian antar sesama. Mereka meninggalkan perilaku tercela, seperti: membela diri, membela kepentingan kelompok, organisasi, partai, ‘jamaah’, atau golongannya.
Sebaliknya, seluruh aktifitas dan amal perbuatan senantiasa disandarkan kepada Allah swt. Semata-mata guna menegakkan akidah Islam, membela kebenaran syari’atullah, dan mendorong lahirnya pemberdayaan umat Islam.
Demikianlah akhlak yang agung dari seorang ibadurrahman. Dia mempunyai jiwa yang lapang, tabiat yang mulia, dan cakrawala keilmuan yang luwas lagi luwes.
Demi Allah, dunia ini terlalu nista untuk melahirkan sebuah pertikaian, pertumpahan darah, putusnya persaudaraan, dan menjual agama Allah swt. Karena di sisi Allah swt, dunia laksana butiran debu yang tak sebanding dengan kekuasaan-Nya. Begitu tololnya, bila seorang menusia mempertaruhkan dirinya guna memenuhi ambisi pribadinya, hingga akhirnya dirinya menjadi ‘mesin’ pembunuh, ‘mesin’ provokasi, dan ‘mesin’ pengkhianat.
Wahai manusia mengapa kamu bela mati-matian diri kalian? Siapakah sebenarnya kalian itu, dihadapan Allah swt? Kamu adalah seonggok tanah liat yang berjalan, karena rahmat-Nya. Kamu berasal dari setetes air yang menjijikkan, yang telah dirahmati-Nya dengan kehidupan. Kamu berdaya karena rahmat-Nya. Kehidupanmu merupakan rahmat-Nya. Oleh sebab, marahlah karena-Nya. Bencilah karena-Nya. Hiduplah karena-Nya. Matilah karena-Nya. Tunjukkan kasih-sayang kalian kepada sesama mukmin. Bersikap keraslah kepada orang yang mengingkari-Nya. Sebab, lambat atau cepat, seorang fasik akan mencondongkan akidah tauhid kalian.
Wahai saudaraku, pahamilah firman Allah swt,
“Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk. Dan, mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (Qs.az-Zumar: 18). []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar