Kamis, 02 September 2010

Mendirikan Shalat Malam

Karakteristik seorang ibadurrahman, menurut Allah swt, sebagaimana telah difirmankan-Nya adalah melalui malam harinya dengan qiyyaamul-lail.

“Para ibadurrahman (adalah): …Orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 64, 75-77).

Allah swt memberikan informasi kepada kita mengenai keadaan seorang ibadurrahman, tatkala malam mulai merangkak dibungkus kegelapannya. Dia berdiri antara sujud dan berdoa. Padahal kebanyakan manusia sudah banyak yang terlelap dengan tidur nyenyaknya. Malah ada yang menghabiskan malam mulianya hanya dengan begadang, cangkruk, bahkan tidak jarang banyak manusia yang melakukan tindak kemaksiatan.
Seorang ibadurrahman diberi rahmat Allah swt pada waktu malam harinya, dengan banyak menempelkan keningnya pada tanah tempat sujudnya, guna menghadap kepada ‘wajah Allah swt’. Inilah kondisi ruhani seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya. Seperti telah disabdakan Nabi saw,

“Keadaan yang membuat hamba paling dekat dengan Rabb-nya, adalah ketika dia dalam keadaan sujud. Maka, perbanyaklah doa (saat sujud itu)” (Hr.Muslim, Abu Dawud, dan Nasâ`i).

“Saat yang paling baik antara Rabb dengan hamba, adalah pada tengah malam yang akhir. Jika kamu sanggup termasuk orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah” (Hr.Tirmidzi).

Keadaan ruhani seorang hamba yang demikian itu, di dalam al-qur`an diperumpamakan,

“(Apakah kamu wahai orang musyrik lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri; sedangkan dia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (Qs.az-Zumar: 9).

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, sedangkan mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan harap-harap cemas. Dan, mereka menafkahkan sebagian rizeki yang Kami berikan kepada mereka” (Qs.as-Sajdah: 16).

Rasulullah saw juga menceritakan keadaan seorang ibadurrahman yang tekun qiyyâmul-lail dengan sabdanya,

“Rabb kalian ta’ajub kepada dua orang: (1)Seseorang yang meninggalkan tempat tidur dan selimutnya di antara keluarga dan orang yang dicintainya untuk mengerjakan shalat. Maka, Allah berfirman, ‘Lihatlah hamba Ku yang meninggalkan tempat tidur dan selimutnya di antara orang yang dicintainya dan keluarganya untuk mengerjakan shalat, karena menyukai apa yang ada di sisi Ku dan takut apa yang ada di sisi Ku’. (2)Seseorang yang berperang di jalan Allah, yang rekan-rekannya mengalami kekalahan dan dia tahu apa yang akan terjadi padanya dalam kekalahan itu dan apa yang dia dapatkan jika kembali. Maka, dia kembali hingga darahnya tertumpah. Maka, Allah berfirman, ‘Lihatlah hamba Ku yang telah kembali, karena mengharapkan apa yang ada di sisi Ku dan takut apa yang ada di sisi Ku, hingga darahnya tertumpah’.” (Hr.Ahmad, dari Ibnu Mas’ud ra).

Munculnya perasaan ‘harap-harap cemas’ itulah, sehingga seorang ibadurrahman memohon kekuatan dari-Nya untuk dapat meninggalkan tempat tidurnya, guna bersujud dan merebahkan diri secara totalitas kehadapan Allah swt, sebagai Sang Khaliq jalla jalâluh.
Hadis Nabi saw tersebut di atas memberikan pelajaran ruhani kepada kaum mukminin, bahwa kedua orang itu sama-sama melakukan jihad dan perjuangan yang hebat. Orang yang pertama berjuang ‘menghabiskan’ malamnya bersama dengan Allah swt, guna memperoleh ridla-Nya. Dan, orang kedua berjuang hingga titik darah penghabisan mengurbankan nyawa, guna mempertahankan dinullah.
Seorang ibadurrahman sangat hormat di dalam membagi waktunya dalam memenuhi hak dan kewajibannya. Siangnya digunakan untuk bekerja, dalam rangka pemenuhan kebutuhan perutnya. Bila, malam telah datang dia membangunkan dirinya, dalam rangka memenuhi kebutuhan kalbunya. Telah terjadi kesepakatan di dalam keluarganya, untuk jarang-jarang berada di ‘tempat tidurnya’ ketika malam mulai mendekap.
Giat bekerja di waktu siang. Sedikit tidur di waktu malam. Di penghujung malamnya yang mulia, tepatnya di waktu sahur, dia memohon ampunan kepada Rabb-nya. Semuanya dilaksanakan karena atas dasar kesadarannya yang tertinggi, bahwa dirinya sangat terbatas, amalnya terbatas, ilmunya terbatas, kesehatannya terbatas, dan umurnya terbatas. Sehingga dia selalu memohon kepada Allah azza wa jalla agar diberinya rahmat, yang berupa perilaku istiqamah dan mudawwamah; dalam beribadah, bersyukur, dan menebarkan kasih-sayang. Allah swt berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, berada di dalam pertamanan surga yang lengkap dengan mata airnya; sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan, di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)” (Qs.adz-Dzariyat: 15-18).

Beberapa Keteladanan
Guna menguatkan keimanan agar kita terdorong untuk menirunya, ada baiknya alfaqir berikan beberapa keteladanan. Antara lain:
1. Ada seorang salaf yang memiliki pelayan, dia sangat rajin bangun malam untuk qiyâmul-lail.
Orang salaf tersebut memberitahu pelayannya, “Shalat malammu mempengaruhi kerjamu di siang hari.”
Pelayan itu menjawab, “Lalu, apa yang harus aku lakukan? Jika aku ingat surga, maka kerinduanku terasa amat panjang. Dan, jika aku ingat neraka, maka ketakutanku semakin menjadi-jadi. Bagaimana mungkin aku dapat tidur, sementara aku berada di antara ketakutan yang selalu mengikutiku dan kerinduan yang menggundahkan kalbuku?”
2. Ibunda ‘Aisyah ra pernah mengisahkan kehidupan malam Rasulullah saw.
Di mana beliau selalu mendirikan shalat malam, sampai-sampai kedua telapak kaki beliau pecah-pecah dan bengkak-bengkak.
Maka, Ibunda ‘Aisyah ra bertanya, “Mengapa engkau berbuat seperti itu, padahal dosa-dosa engkau yang lampau telah diampuni, begitu pula dosa-dosa engkau yang akan datang?”
Maka, baginda Nabi saw menjawab, “Tidak bolehkah jika aku suka menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
3. Suatu hari Ubaid bin Umair ra dan Atha’ bin Abu Rabbah ra bersilaturahmi ke rumah Ibunda ‘Aisyah ra.
Lalu bertanya, “Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling menakjubkan, yang engkau lihat pada diri Rasulullah saw!”
Setelah diam sejenak, Ibunda ‘Aisyah ra menjawab, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Wahai ‘Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabb-ku.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau. Tetapi, aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”
Maka, beliau bangkit, bersuci lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus-menerus menangis. Lalu beliau duduk dan masih tetap menangis, sampai janggut beliau basah oleh air mata. Kemudian beliau berdiri dan tetap menangis sampai tanah di dekat beliau basah. Hingga datanglah sahabat Bilal ra untuk mengumandangkan adzan shalat.
Ketika sahabat Bilal mengetahui keadaan Rasulullah saw yang sedang menangis. Bilal bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal Allah telah mengampuni seluruh dosa engkau yang telah lampau, dan seluruh dosa yang akan datang.”
Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Pada malam ini telah turun satu ayat. Kecelakaanlah bagi orang yang membacanya, dan tidak memikirkan kandungannya. ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Dan, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal’.” (Qs.Ali ‘Imran: 190).
4. Di nDalem Kasepuhan Ma’had Tee-Bee Surabaya, seluruh shantri dan jamaah diimbau untuk memiliki kebiasaan qiyamul lail, yakni menghidupkan kegiatan malam dengan mandi, shalat-shalat sunnah, dzikrullah, tilawah al-qur`an, dan muthala’ah ilmu pengetahuan. Seluruhnya dilakukan dengan cara ‘shantri mandiri aktif’ (sharitif), kecuali yang muqim di nDalem Kasepuhan, keseluruhan kegiatan dilakukannya secara berjamaah; yakni dalam Program Human Boarding Quantum and Compentency (HBQC).
Kesemuanya ini bertujuan untuk menghidupkan sunnah bangun malam, yang memang sangat berat untuk dilakukan.
Bila, seseorang merasa berat dan malas untuk bangun malam, maka segeralah meneliti dirinya; mungkin terdapat kesalahan, dosa dlahir maupun dosa batin. Kemudian cepat-cepatlah bertaubat dengan disertai kesungguhan kalbu (mujahadah). Niscaya, kalbunya akan kembali bercahaya. Sehingga tidak ada lagi yang mampu menghalangi niatnya untuk hadir dalam ‘majelis gerak thawaf rabbani’, dengan mendirikan qiyâmul-lail.

Pelajaran Yang Diambil
Shalat malam seorang mukmin kelak akan menjadi cahaya di akhirat. Sehingga seorang ibadurrahman tidak akan pernah meninggalkannya. Seorang hamba yang meninggalkan shalat malam, dia tidak dapat dikatakan sebagai hamba yang mencintai Allah jalla jalâluh.
Adalah, Sayyidusy Syekh Abbul Abbas Ahmad bin Muhammad at-Tijani ra sangat menganjurkan kepada para sahabat dan murid-muridnya, untuk melakukan shalâtul-lail.

“Kalau kamu merasa tidak enak badan, sakit atau lain sebagainya, usahakanlah bangun sebelum terbit fajar. Lalu mengerjakan shalat, meskipun hanya dua rakaat (walau secara singkat). Setelah itu mengerjakan shalat fajar dan shalat subuh. Tidak mengapa kamu mengundurkan wirid (aurad tijaniyah, red) sampai waktu dluha umpamanya” (Lihat Kitâb Bughyatul Mustafid, hal.388).

Pernah terjadi ada sebagian murid beliau yang meminta dispensasi, “Syekh, aku tidak mampu bangun sebelum terbit fajar. Malah seringkali aku terlambat mendirikan shalat, sampai matahari menjelang terbit. Aku sangat sulit untuk meninggalkannya.”
Syekh Ahmad Tijani menjawab, “Kamu seorang yang tidak pantas mengamalkan thariqah kami. Karena itu lepaskanlah wirid kami darimu” (Lihat Kitâb Bughyatul Mustafid, hal.385).
Syekh Ahmad bin Rifa’i ra juga sangat menekankan kepada para muridnya untuk membiasakan mendirikan shalâtul-lail.
Syekh Ali al-Khawwas ra memerintahkan para muridnya untuk berniat akan bangun malam, pada sore harinya. Bahkan, dengan niat itu saja sudah merupakan kebaikan dan mendapat pahala karenanya.
Ketiga guru kita tersebut di atas, benar-benar berkehendak untuk mengimplementasikan sabda Nabi saw,

“Tekunilah qiyâmul-lail. Karena sesungguhnya qiyâmul-lail itu kebiasaan kaum shalihin sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, mencegah dari perbuatan dosa, menebus kejelekan, dan mencegah penyakit dari tubuh” (Hr.Ahmad, Tirmidzi, Baihaqi, Ibnu Asakir, Thabrani, dan Ibnu Sunni).

Bangun malam (qiyâmul-lail) adalah identitas seorang ibadurrahman. Demikianlah kalbu seorang ibadurrahman telah dapat menjadi pelita, cahaya, dan sinar yang cemerlang; karena kelanggengannya mendirikan shalat malam. Kalbunya telah bercahaya, putih kemilau laksana mutiara. Sehingga dalam hidupnya, seorang ibadurrahman memiliki kalbu yang tenang, pribadi yang matang, satunya kata dengan perbuatan, dan limpahan rahmat-Nya yang terus didapatkan.
Seperti yang pernah terjadi di masa tabi’in, ada beberapa sahabat yang mempunyai sekali wudlu`, dari shalat isya` sampai shalat subuh. Mereka adalah: sahabat Sa’id bin Musayyab ra, Fudlail bin Iyadl ra, Wahib bin Wardi ra, dll.
Inilah para hamba Allah swt yang berperilaku ibadurrahman, karena dirinya ahli qiyâmul-lail. Maka, Allah swt memberikan keistimewaan yang utama.

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuknya, yaitu (bermacam-macam kenikmatan) yang menyedapkan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (qiyâmul-lail)” (Qs.as-Sajdah: 17).

Mengingat qiyâmul-lail merupakan anjuran kepada segenap kaum mukminin, perlulah alfaqir tunjukkan beberapa strategi, supaya kita dapat melazimkan shalâtul-lail, insyâ Allah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Lakukan tajdidul-wudlu’ (selalu memperbaharui wudlu’), utamanya setelah shalat isya` atau di saat mau tidur.
2. Perbanyak dzikrullah menjelang tidurnya, sehingga tertidur dalam kondisi dzikir.
3. Perut jangan terlalu kenyang.
4. Hindari makanan atau minuman yang haram dan syubhat, termasuk rizeki yang digunakan untuk memperolehnya.
5. Hindari perilaku maksiat dan dosa di siang harinya.
6. Perbanyak minum air putih di saat mau tidur, karena sunnatullahnya empat jam kemudian terasa ingin kencing. Insyâ Allah, lelapnya tidur tidak akan mampu menahan keinginan kencingnya.
Wahai saudaraku sesama muslim, renungkan firman-Nya,

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs.al-Baqarah: 153). []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar