Kamis, 02 September 2010

Rendah Hati

Dinul Islam telah memberikan beberapa karakteristik seorang hamba Allah swt, yang benar-benar merupakan pilihan-Nya. Yang mana kenyataan itu telah Allah swt sendiri tegaskan pada Kitab Suci al-Qur`an, di antaranya seperti yang terdapat pada surat al-furqân ayat ke-63 sampai pada akhir ayat ke-77.

“Para ibadurrahman (adalah): Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…; Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya; mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman; Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 63, 75-77).

Ibadurrahman merupakan hamba Allah swt yang telah dipilih-Nya sendiri, dengan segala sifat dan karakteristiknya. Bagi Allah swt, dia adalah teladan untuk umat manusia, agar pola kehidupannya benar-benar diikutinya. Seorang ibadurrahman, yakni para hamba Allah swt yang di-nisbat-kan hanya kepada Allah swt.
Iblis dan setan merasa jengkel dan berputus asa, guna merayu dan menyusup ke dalam hati seorang ibadurrahman. Dikarenakan, sudah tidak ada lagi celah yang dapat dijadikan iblis dan setan untuk memperdayainya. Apalagi guna menguasainya sangatlah tidak mungkin. Kenyataan ini dilukiskan Allah swt di dalam Kitab Suci-Nya,

“Iblis berkata, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Mu yang mukhlis di antara mereka’.” (Qs.Shâd: 82-83).

Pernyataan yang bernada kecewa yang disampaikan oleh iblis itu, dijawab oleh Allah swt dengan penegasan-Nya,

“Sesungguhnya hamba-hamba Ku, kalian tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan, cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga” (Qs.al-Isrâ`: 65).

Ibadurrahman adalah prototipe segolongan hamba Allah swt yang senantiasa kehidupannya diliputi dan dilindungi oleh rahmat-Nya yang agung. Rahmat Allah swt seolah menjadikannya telah berada di sebuah benteng yang kokoh kuat lagi aman. Itulah manakala rahmat Allah telah melindungi para hamba yang telah dipilih-Nya. Dikarenakan ibadurrahman dalam hidup dan kehidupannya benar-benar telah menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah swt, yang memiliki Dzat Mahasuci, Mahakuasa, dan Mahabesar.
Sangat berbeda dengan para hamba thaghut, hamba alkohol, hamba narkotik, hamba perempuan, hamba jabatan, hamba syahwat, hamba kekuasaan, dan hamba dunia. Mereka lebih memilih untuk mengingkari-Nya. Karena setan dan iblis telah menjadi sandaran utama dalam hidup dan kehidupannya. Baik dalam kenyataannya dilakukan dengan terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi. Malah sangat mungkin dilakukannya dengan penuh kepura-puraan.
Yang terakhir inilah, yang sangat membahayakan kehidupan kaum mukminin. Sebab, kaum mukminin jarang yang terasa, bila tauhidnya telah dicondongkannya, sedemikian rupa sampai pada kulminasinya, seorang mukmin itu telah asing dan merasa jauh dengan tradisi diniahnya. Inilah nestapa potret kebanyakan saudara-saudara kita kaum muslimin di negara, yang konon penduduknya pemeluk Islam-nya sangat banyak ini.
Sudah saatnya kaum muslimin Indonesia mampu melahirkan sumber daya umat, yang berkualitas ibadurrahman sebagai generasi rabbani. Mereka adalah para hamba Allah swt yang mengetahui-Nya, menyadari kekuasaan-Nya, dan memenuhi hak-hak-Nya. Mereka merupakan para hamba yang mukhlis, dan selalu dimukhliskan oleh-Nya. Mereka selalu melakukan pengabdian secara langgeng lagi ajeg, sehingga Allah swt melanggengkan dan mengajegkan rahmat-Nya. Mereka senantiasa berusaha memurnikan pengamalan dinul Islam karena-Nya, sehingga Allah swt memurnikan dinul Islamnya bagi mereka. Inilah kualitas umat Islam yang sangat dinantikan kehadirannya, guna menjadi penyelamat masa depan bangsa Indonesia.

Mendapatkan Cahaya Allah swt
Seorang ibadurrahman di dalam kehidupannya benar-benar telah menerima dan memahami dinul Islam, baik secara lisan, secara kalbu, dan secara amal perbuatan. Sehingga dia telah mendapatkan cahaya Allah azza wa jalla. Dari cahaya-Nya itulah dia terbimbing menjadi hamba Allah yang berkarakter, berkepribadian, dan mempunyai jati diri. Seperti telah diungkapkan-Nya,

“Maka, apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) dinul Islam, lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka, kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (Qs.az-Zumar: 22).

Dari ayat tersebut di atas yang berbunyi, “Afa man syaraha-llâhu shadrahû lil-islâm, fa huwa ‘alâ nûrim-mir-rabbihî…”
Maka, secara konseptual dinul Islam telah menjadikan kaum mukminin menjadi generasi rabbani yang berkualitaskan ibadurrahman, dengan segala sifat dan karakteristiknya yang positif lagi indah. Disebabkan telah mendapatkan cahaya Allah jalla jalâluh (fa huwa ‘alâ nûrim mir-rabbihî) di dalam segenap aspek kehidupannya. Yang di dalam surat al-furqân ayat ke-63 sampai dengan ayat ke-74 telah disebutkan Allah swt dengan jelas ciri-cirinya. Seperti telah difirmankan Allah swt,

“Dan, hamba-hamba Rabb yang Mahapenyayang itu (adalah): Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” (Qs.al-Furqân: 63).

Ibadurrahman, bila berjalan di muka bumi dia sangat rendah hati, tawadlu’, dan lemah lembut. Berjalan dengan penuh wibawa dan rasa hormat; tetapi dia tidak sombong dan membusungkan dada.
Dia sangat memahami, bahwa kejadiannya berasal dari tanah. Sehingga tidak ada yang pantas untuk dipamerkan dan dilebihkan, karena sadar, suatu ketika bila saatnya tiba, dia pun akan ditelan oleh tanah yang saat ini diinjaknya.
Dia tidak adi gang, adi gung, adi guno, dan sopo iro sopo ingsung. Dia tetap sadar, bahwa seluruh kejadian dan kenyataan yang ada di dunia ini, adalah berasal dari Allah jalla jalaaluh (mâ sya`allâh, kullum min ‘indi-llâh). Karena itu Allah azza wa jalla menginformasikan,

“Dan, janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi. Dan, sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung” (Qs.al-Isrâ`: 37).

Ayat tersebut di atas telah menegaskan, bila Allah azza wa jalla itu melarang para hamba-Nya yang mukmin untuk berlaku sambong lagi membanggakan diri. Sebaliknya, Allah swt sangat mencintai para hamba-Nya yang berperilaku rendah hati lagi tawadlu’.
Sehingga seorang Luqman yang waliyyullah itu telah memberikan wasiat khusus kepada anaknya,

“Dan, janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong). Dan, janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan, sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara, ialah suara keledai” (Qs.Luqmân: 18-19).

Ayat di atas memberikan teladan kepada kita, bahwa Luqman benar-benar telah menempatkan dirinya, sebagai pengajar sekaligus sebagai pendidik bagi anaknya.
Inilah hakikat pendidikan dan pengajaran Rasulullah saw, yang sebenarnya menjadi tujuan utama dalam sebuah proses belajar mengajar. Bukan semata-mata melakukan olah pikir dan akal, guna memberdayakan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi justru malah melahirkan kekosongan nilai dan tradisi akhlak yang luhur.
Di sinilah para orang tua dan para guru sangat berperan dalam memberikan keteladanan yang benar, sebagai seorang pendidik (al-mu’allim) dan pengajar (al-murabbi). Sehingga anak-anak, para remaja, dan para pemuda benar-benar memiliki akhlak rendah hati, seperti yang telah diteladankan oleh uswah kita, Rasulullah Muhammad saw.

Teladan
Bagaimanakah berjalan dengan rendah hati, dan akhlak rendah hati yang sebenarnya itu. Ada beberapa teladan yang telah dicontohkan oleh baginda Nabi saw dan para sahabat beliau. Antara lain:
1. Diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib kw, bahwa Nabi saw di saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang yang penuh semangat dan pemberani.
2. Diceritakan oleh sahabat Abu Hurairah ra,

“Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus daripada diri Rasulullah saw. Seolah-olah matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih cepat jalannya dari pada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha untuk menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Maksudnya, beliau berjalan antara cepat dan lamban. Tidak tergesa-gesa, juga tidak bermalas-malasan.

“Waspada itu datangnya dari Allah. Sedangkan tergesa-gesa itu datangnya dari setan,” demikian sabda Nabi saw (Hr.Baihaqi, dari Anas ra, Kitâb Mukhtârul Ahâdis, no.26).

Demikianlah jalannya seorang ibadurrahman, dengan kekuatan ruhani yang rabbani, dia berjalan dengan menunjukkan kekuatannya tetapi tetap penuh kewibawaan yang dihormati.
3. Suatu ketika sahabat Umar bin Khaththab ra melihat seorang pemuda sedang berjalan dalam keadaan gontai.
Dia bertanya kepada pemuda tersebut, “Apakah kamu sedang sakit ?”
Pemuda itu menjawab, “Aku, tidak sakit.”
Lalu, Umar berkata, “Kalau begitu kamu, jangan jalan seperti itu.”
4. Salah seorang sahabat perempuan Nabi saw sedang melihat sekelompok anak muda yang berjalan dengan pelan-pelan. Sahabat tersebut bertanya, “Siapakah mereka itu ?”
Di jawab sahabat yang lain, “Mereka adalah para pemuda ahli ibadah.”
Sahabat perempuan itu berkata, “Demi Allah, jika berjalan, Umar adalah orang yang paling cepat. Jika berkata, suaranya paling lantang. Jika memukul, maka pukulannya menyakitkan. Tapi dia juga seorang ahli ibadah yang sebenarnya.”
5. Suatu ketika sahabat Umar bin Khaththab ra, melihat seseorang yang pura-pura menampakkan kekhusyukan dalam shalatnya, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Maka, serta merta Umar mengambil sebutir biji jagung, lalu disambitkan kepada orang tersebut, sambil berkata, “Ada apa kamu ini? Tegakkanlah kepalamu dan jangan membuat agama kami mati, sehingga Allah membuatmu mati. Sesungguhnya kekhusyukan itu ada di dalam hati, dan bukan berada di leher.”
Inilah yang dimaksud dengan berjalan dengan akhlak rendah hati, lemah lembut, dan tawadlu’. Di mana seorang ibadurrahman tersebut masih menunjukkan kekuatannya, sedikit mempercepat langkah kakinya, jalannya sesuai dengan perawakannya, umurnya, dan kemampuannya tidak dibuat-buat. Karena selalu ingat dengan pesan Rasulullah saw,
“Siapa yang merasa sombong di dalam dirinya, atau congkak saat berjalan. Maka, dia berjumpa Allah dalam keadaan mendapat murka dari-Nya” (Hr.Ahmad & Hakim).

Sebagaimana juga disabdakan Nabi saw,

“Sebaik-baik ibadahnya orang-orang mukmin, adalah merendahkan diri” (Dari Ibunda Aisyah ra).

6. Adalah Qarun, tatkala dia keluar dari rumahnya memamerkan perhiasannya kepada segenap manusia, berjalan dengan sombong lagi congkak. Lalu, Allah swt membenamkan dirinya, perhiasan dan tempat tinggalnya ke perut bumi, sehingga tak satu pun miliknya yang tersisa.

“Maka, Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah, dan tiadalah dia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)” (Qs.al-Qashash: 81).

Pelajaran Yang Diambil
Sayyiduna Rasulullah Muhammad saw adalah orang yang paling banyak merendahkan diri. Padahal kita semua tahu, bagaimana kedudukan beliau di sisi Allah swt dan di antara para makhluk-Nya. Beliau lebih suka berjalan di belakang para sahabatnya. Beliau tetap berperilaku, bertutur kata, dan berdandan sebagaimana para sahabatnya. Beliau duduk dengan mereka tanpa ada perbedaan sedikit pun.
Suatu ketika ada seseorang yang belum mengenalnya mencari beliau, tidak mengetahui mana yang namanya Muhammad Rasulullah itu. Orang asing tersebut terus bertanya, “Mana yang namanya Muhammad? Mana di antara kalian yang menjadi cucu Abdul Muthalib?”
Di tengah keluarga pun beliau biasa mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga, seperti: menambal pakaian yang robek, menyambung tali sandal putus, memerah susu sendiri, membuah adonan kue bersama-sama para pelayannya; kesemuanya dikerjakan dengan sentuhan tangan suci beliau.
Dengan para isterinya tidak pernah berkata kasar, apalagi sampai main kasar, seperti menendang atau menempeleng. Karena menurut beliau perilaku kasar dan bengis terhadap isteri, bukan karakter lelaki mukmin yang mulia.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (isterinya), dan aku adalah contoh terbaik dalam berperilaku terhadap keluargaku. Tidak akan menghormati perempuan, melainkan lelaki yang mulia. Sebaliknya, lelaki yang merendahkan perempuan adalah yang tidak berbudi luhur” (Hadîs Shahîh).

Itulah sebuah teladan dari pribadi yang agung, yang menjadi panutan sejati (uswah) bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi para umatnya sampai Hari Kiamat datang.

“Kâna ahsanan-nâsi khuluqan”; beliau adalah orang yang paling berbudi luhur” (Kitâb Jam’ush Shaghîr, Juz.IV, no.4508).

“Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai hamba yang mulia, dan tidak menjadikan aku sebagai orang yang lalim lagi kejam,” demikian sabdanya dalam sebuah hadis shahih.

Setiap kita harus belajar berperilaku rendah hati, yakni berjalan di muka bumi ini dengan akhlak malu, tidak sombong, dan tidak kejam. Inilah proses awal untuk mencapai kedudukan ruhani rabbani seorang hamba yang bergelar ibadurrahman.
Kiranya layak dilantunkan doa al-faqir di bawah ini,

“Ya Allah, jadikanlah kami para hamba Mu yang rendah hati lagi mulia, dan janganlah Engkau jadikan kami (para hamba Mu) yang lalim lagi kejam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar