Karakteristik seorang ibadurrahman yang keempat, adalah terdapatnya perasaan ‘harap-harap cemas’ di dalam dirinya. Sebab dia selalu mengkhawatirkan keadaannya di sisi Allah swt kelak. Terlebih setelah mendengar firman-Nya,
“Dan, tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb, adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Lalu, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dlalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Qs.Maryam: 71-72).
Karena kenyataan itu merupakan masa depannya yang sebenarnya. Sehingga dia sedikit sekali melakukan tidur malam, dan berusaha seoptimal mungkin merebut dunianya untuk dijadikan fasilitas utama dalam memenuhi keinginannya tersebut. Seperti telah digambarkan di dalam al-qur`an,
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)” (Qs.adz-Dzariyat: 17-18).
Allah swt telah menyifatinya dan memberinya pahala terhadap seorang ibadurrahman.
“Para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 65, 75-77).
Perasaan harap-harap cemas seorang ibadurrahman, semata-mata didorong oleh adanya rasa takut kepada Allah swt. Dia mencemaskan keadaannya di akhirat. Dia memikirkan rasanya kematian, karena kenyataan ini pasti akan dialaminya. Dia mengkhawatirkan keadaan amalnya tidak mencukupi kelak pada Hari Kebangkitan. Begitu juga dengan hisabnya. Masih harus menunggu lagi keputusan dari Allah swt. Apakah di surga? Ataukah harus melalui neraka lebih dahulu?
Tidak begitu muluk-muluk, seorang ibadurrahman selalu menyadari bahwa dirinya belum layak mendapatkan surga. Tetapi dirinya sangat takut dengan neraka Jahannam. Karena gambaran Jahannam itu adalah,
“…Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Qs.at-Tahrim: 6).
Adakah tempat yang lebih buruk ketimbang neraka Jahannam? Tidaklah kita takut dengan keadaan seperti ini? Oleh sebab, seorang ibadurrahman selalu merintih, berdoa, munajat, dan bertawajuh kepada Allah azza wa jalla, dengan rintihannya,
“Wahai Rabb kami, jauhkanlah siksa Jahannam dari kami. Sesungguhnya siksanya itu adalah kebinasaan yang kekal” (Qs.al-Furqân: 66).
Manusia harus berada di antara takut dan berharap, tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa dirinya aman dari nerakanya Allah swt. Sebaliknya, mereka tidak dikuasai oleh perasaan takut, sehingga di dalam dirinya muncul perasaan putus asa dari rahmatnya Allah swt.
Dunia itu tidak kekal. Kehidupan seorang manusia juga tidak kekal. Manusia hanya sekadar tamu, karena dirinya adalah seorang musafir yang pasti akan melanjutkan perjalanannya, untuk mencapai tujuannya yang hakiki.
Sama-sama sebagai musafir, namun adakalanya salah di dalam memilih jalan. Karena mereka berani meninggalkan ‘pedoman perjalanan’, sehingga tidak sedikit para musafir itu mengalami kesesatan yang nyata. Demikianlah akhir dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dalam kehidupan seorang manusia. Tetapi ternyata kenyataan pahitlah yang diterima, karena nerakalah tempat kembalinya. Realitas inilah yang sangat ditakutkan oleh seorang ibadurrahman.
Keteladanan
Ada beberapa perilaku yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan kita. Sehingga kita akan memiliki kekuatan iman dan tauhid, guna untuk diteladani bersama. Antara lain yang dialami:
1. Adalah seorang Ibnu Abi Maisarah, pemuda shalih yang senantiasa menangis tatkala handak tidur di kasurnya.
Selalu dia bergumam terhadap dirinya sendiri, “Sekiranya saja ibu tidak pernah melahirkan aku.”
Ibu pemuda itu mendengar apa yang digumamkan putranya. Lalu, si ibu menimpalinya, “Wahai puteraku, Allah telah berbuat baik kepadaku ketika menuntun dirimu kepada Islam.”
Ibnu Abi Maisarah menjawab, “Wahai ibuku, tapi Allah telah mengabarkan bahwa kita semua akan menghampiri neraka, dan tidak mengabarkan apakah kita bisa keluar dari sana.”
2. Rasulullah Muhammad saw adalah hamba Allah yang sudah pasti dosanya yang telah lalu dan yang akan datang akan diampuni oleh-Nya. Namun beliau senantisa berdoa kepada Allah swt supaya mendapat perlindungan-Nya dari siksa api neraka.
Di samping selalu membaca doa, “Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan berilah kami kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Beliau juga mengajarkan doa ini kepada para sahabatnya,
“Ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari siksa Jahannam, aku berlindung kepada Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada Mu dari cobaan al-Masihud Dajjâl, dan aku berlindung kepada Mu dari cobaan hidup serta mati’.” (Muttafaqun ‘alaih).
Doa ini selalu beliau ucapkan di setiap akhir shalat setelah membaca tasyahud, dan itu disunnahkan buat kita, agar kita mengamalkannya.
3. Nabi Isa putera Ibunda Maryam as pernah berkata, “Berapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”
Oleh karena Nabi saw biasa mengucapkan doa,
“Dan, aku memohon surga kepada Mu, dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya; berupa perkataan atau perbuatan. Dan, aku berlindung kepada Mu dari neraka, dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya; berupa perkataan atau perbuatan” (Hr.Ibnu Majah).
Beliau saw bersabda,
“Barangsiapa yang memohon surga kepada Allah tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah dia ke surga.’ Dan, barangsiapa yang berlindung dari neraka tiga kali. Maka, neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah dia dari neraka’.” (Hr.Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasâ`i, dan Ibnu Hibbân).
4. Begitu mencemaskan masa depan dirinya di sisi Allah swt. Sahabat Umar bin Khaththab ra pernah berkata, “Barangsiapa yang takut kepada Allah tidak terganggu oleh kesulitannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah tidak akan berbuat semaunya sendiri.”
Inilah sinyal kehati-hatian dari sahabat Umar atas tindakan manusia, yang mempunyai kecenderungan melampaui batas, dan selalu menuruti hawa nafsunya.
Tetapi seorang manusia tetaplah seorang hamba, yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan apa pun terhadap diri dan kehidupannya. Kesadaran tertingginya harus menerima dan mengakui, bahwa setelah hidup ada kematian. Setelah mati ada kehidupan barzah. Setelah barzah ada Hari Kiamat. Setelah kiamat ada peng-hisab-an amal. Setelah hisab ada surga dan neraka.
Bagi seorang mukmin pasti akan takut terhadap kondisi dirinya mengahadapi kenyataan tersebut. Dan, hanya orang-orang dungu lagi tolol yang tidak pernah memikirkan masa depannya di sisi Allah jalla jalâluh.
5. Syekh Hasan al-Basri ra, suatu ketika melewati sekelompok anak muda yang sedang tertawa terbahak-bahak. Beliau menyempatkan bertanya kepada mereka, “Wahai anak muda, mengapa kalian tertawa terbahak-bahak sedemikian rupa? Apakah kalian mengetahui akan menerima kitab kalian dengan tangan kanan atau tangan kiri?”
“Tidak,” Jawab salah seorang darinya.
Syekh bertanya, “Apakah kalian merasa yakin dapat menyeberangi shirath?”
“Tidak,” Jawabnya.
Syekh bertanya lagi, “Apakah kalian tahu akankah masuk neraka, atau selamat darinya?”
“Tidak,” Jawabnya.
“Lalu mengapa kalian berani tertawa terbahak-bahak?” Tanya Syekh Hasan, sampai-sampai para pemuda tersebut menangis histeris menyesali atas perbuatannya.
6. Adalah Sayyid Ali Ba Faqih ra, pernah memberikan nasehat kepada alfaqir, “Wahai anakku, janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang membicarakan neraka sambil tertawa. Gunakanlah waktu malammu untuk mengingat dosa-dosa yang kamu lakukan di siang harimu. Sambil terus-menerus menanyakan pada dirimu sendiri, sudahkah bertakwa kepada Allah? Dan, rasakan betapa pedih dan menderitanya menjadi penduduk neraka.”
Setelah Syekh berbicara, alfaqir memejamkan mata, di mana alfaqir seolah telah berada di neraka dengan segala siksaan dan kengerian. Dan, hanya berlindung pada kalimat Lâ ilâha illa-llâh, yang dibaca berulang-ulang, sambil terus memohon pertolongan-Nya.
Mulai saat itulah, alfaqir tidak pernah merasakan nikmatnya makan-minum, nikmatnya rekreasi, nikmatnya tidur, dan nikmatnya berkumpul dengan isteri. Di banding dengan puncak kenikmatan menatap ‘wajah’ Allah swt di akhirat nanti.
Pelajaran Yang Diambil
“Dan, tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb, adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Lalu, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dlalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Qs.Maryam: 71-72).
Firman Allah swt ini menegaskan, bahwa setiap manusia di antara kita akan menghampiri neraka. Tetapi Allah swt tidak pernah mengabarkan, bagaimana jalan keluar supaya selamat darinya?
Sementara kenyataan hidup seorang manusia sangat jauh dari merenungkannya. Bahkan kebanyakan dari umat manusia telah melupakan dan melalaikannya. Semata karena kesibukan-kesibukan yang dibuatnya sendiri. Mereka menganggap realitas dunianyalah yang mendesak untuk dipenuhinya. Sehingga mereka berkecenderungan mengabaikan akhiratnya. Inilah gaya hidup para hamba Allah, yang tidak dianugerahi menjadi seorang ibadurrahman.
Gaya hidup dan sikap hidup yang sangat jauh dari perilaku seorang ibadurrahman. Maka, manusia itu akan memiliki kecenderungan cinta dunia yang sangat melampaui batas (hubbud-dunya). Bila, hubbud-dunya sudah menghinggapi kalbunya dan merasuk syahdu ke dalam jiwanya. Sudah pasti mereka akan melalaikan kehidupan akhirat dan Hari Kiamat. Inilah pangkal kerusakan dunia.
Di mana seorang manusia akan berlaku buas, menghalalkan segala cara, yang kuat menindas yang lemah, merusak alam lingkungan hidupnya, dan serakah dalam memenuhi ma`isah kehidupannya. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari ke-Mahabesaran Allah. Sehingga mereka tidak pernah taat dan merasa takut sedikit pun terhadap segala perintah dan larangan, yang telah ditetapkan-Nya dalam syariat-Nya.
Dinul Islam sangatlah ‘longgar’ atas pelaksanaan tradisi hukum dan tradisi syariahnya. Setiap manusia diberi kebebasan memilih dan berkehendak (free will), menjadi mukmin atau kafir. Namun kematian sajalah yang membatasi dan membedakan atas segalanya, dari kehidupan seorang manusia.
Silahkan manusia hidup menurut kehendaknya. Silahkan manusia mengikuti hawa nafsu sepuas-puasnya. Silahkan manusia menikmati kehidupan dunia ini sesukanya. Tapi ingat umur dan hidup manusia sangatlah terbatas. Dibatasi oleh sang waktu, yang selalu mengintai, yang sewaktu-waktu akan memenggal lehernya.
Keadaan yang sangat mencemaskan inilah, bagi seorang ibadurrahman selalu membuatnya gelisah akan ‘masa depannya’ di akhirat kelak. Dia tidak sanggup memejamkan matanya, dikala malam telah menyelimutinya. Dia tidak pernah merasakan enaknya makan, karena rasa hanya mampir sebentar dilidahnya. Dia sesak napas, bila mengingat bau anyirnya neraka, yang bahan bakarnya adalah para bangkai manusia pendurhaka. Sesekali, dia menghela napasnya, sambil bertanya pada dirinya, “Sudahkan aku ini menjadi orang yang bertakwa kepada Allah?” Dia tidak berani menjawabnya. Diam seribu bahasa. Jawabanya tampak pada tubuhnya yang menggigil. Dan detak jantungnya yang berubah menjadi cepat.
Seorang ibadurrahman di dalam hatinya telah terpatri sabda Nabi saw,
“Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, sekiranya kalian melihat apa yang pernah aku lihat. Niscaya kalian tertawa sedikit dan banyak menangis.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau lihat?”
Nabi saw menjawab, “Aku pernah melihat surga dan neraka” (Hr.Muslim).
Wahai saudaraku! Janganlah menjadi hamba Allah yang lalai akan dirinya sendiri, yang tertipu oleh kesibukan dan repotnya urusan duniawi kalian. Karena dunia yang selalu kalian dambakan cepat atau lambat pasti akan sirna dan musnah.
Tinggalkanlah semua pikiran mengenai hal-hal yang pasti akan kalian tinggalkan. Dan, alihkan pikiran kalian kepada masa depan kalian sendiri di akhirat kelak. Sebab, sesungguhnya kalian telah diberitahu, dan telah mengerti, bahwa neraka adalah akhir yang mungkin kalian capai. Kemungkinan kalian masuk neraka, justru lebih pasti, sedangkan keselamatan kalian darinya, malah masih meragukan sekali.
Wahai saudaraku! Sebagai seorang ibadurrahman, tanamkanlah di hati kalian rasa takut terhadap masa depan kalian tersebut, sehingga kalian termotivasi untuk bersiap-siap menyelamatkan diri. Renungkanlah!? Kesengsaraan, ketika mendapatkan pahit-getirnya Hari Kiamat. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar