Dinul Islam mengajarkan bahwa taubatan nasuha merupakan ibadah batin yang harus dilakukan seorang mukmin, guna menyempurnakan pelaksanaan ibadah dlahirnya. Seorang ibadurrahman dalam keberagamaannya benar-benar memperhatikan ajaran tersebut, sehingga dengan susah-payah selalu ditunaikannya. Sadar bila di dalam kehidupannya sangat rentan dengan perilaku dosa dan maksiat kepada Allah swt.
Karena seorang hamba, selain Rasulullah saw, di hadapan Allah hanyalah berkedudukan menjaga diri dari berlaku dosa dan maksiat kepada-Nya, bila terpeleset atau terjerumus maka harus cepat melakukan taubat kepada Allah swt (maqâmul-mahfudz). Disebabkan seorang ibadurrahman selalu merenungi sabda Nabi saw,
“Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak berdosa. Dan, jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya” (Hr.Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Hakim; dari Ibnu Mas’ud ra).
Allah telah menyifati hamba-Nya yang berperilaku seperti di atas dengan firman-Nya,
“Para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan, adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang; dan, orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya… Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 70-71; 75-77).
Taubatan nasuha adalah sikap pribadi seorang ibadurrahman yang teguh untuk kembali kepada jalan Allah, karena sadar atas segala perbuatan yang telah dikerjakannya keliru disebabkan nyata-nyata telah melanggar syariat Islam; sehingga melahirkan perilaku yang istiqamah dan mudawwamah dalam bertaubat karena terhindar dari perilaku kepura-puraan, kepalsuan, dan dusta.
Seorang ibadurrahman berusaha sekuat tenaga untuk tetap meng-istiqamah-i dan men-dawam-kan perilaku taubatan nasuha. Dikarenakan Allah azza wa jalla telah membuka pintu taubatnya secara lebar-lebar, sampai datangnya Hari Kiamat. Seperti telah disabdakan Nabi saw,
“Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada malam hari untuk mengampuni orang yang berbuat keburukan pada siang hari. Dan, membentangkan Tangan-Nya pada siang hari untuk mengampuni orang yang berbuat keburukan pada malam hari, hingga saat matahari terbit dari arah tenggelamnya (Hari Kiamat)” (Hr.Muslim dan Nasâ`i).
Rukun & Syarat Taubat
Demi terwujudnya taubat nasuha dalam kehidupan seorang mukmin, maka seorang yang bertaubat (tâ`ib) haruslah memenuhi beberapa rukun dan syarat, guna keberhasilan taubatnya, di antaranya:
1. Niat yang disertai dengan hasrat yang kuat.
Taubat menjadi tidak ada manfaatnya, bila tidak disertai dengan niat yang penuh hasrat.
Kesungguhannya dalam bertaubat haruslah dibarengi dengan hasrat yang kuat, sehingga posisi ruhani tidak berada di antara dosa dan kemaksiatan. Perilaku yang demikian tidak dapat dikatakan taubat, sebaliknya itulah yang disebut dengan kedurhakaan yang sesungguhnya.
Niat yang disertai dengan hasrat yang benar dalam bertaubat, itulah yang disebut dengan sebenar-benarnya taubat. Karena di dalam hatinya seorang taa`ib telah terjadi pengingkaran atas perbuatan yang menimbulkan perbuatan itu ditaubatinya.
Inilah sikap yang sulit di dalam melakukan proses taubat, sehingga tidak jarang seorang hamba berkehendak melakukan taubat justru malah jatuh ke dalam kedurhakaan. Proses pembimbingan dalam hal ini sangatlah penting untuk dilakukan, sehingga taubatnya memenuhi harapan dan tepat sasaran.
Dengan kuatnya hasrat bertaubat, maka seorang taa`ib telah berketatapan hati untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan maksiatnya. Sebaliknya, secara sadar si taa`ib memaksimalkan proses pengabdiannya dengan mengejawantahkan keislaman dan keimanannya dalam kehidupan keseharian keberagamaannya.
2. Menyesal.
Penyesalan adalah rukun taubat yang paling utama, artinya taubat tanpa melakukan penyesalan sangat dipertanyakan sikap taubatnya.
Sahabat Anas ra pernah ditanya mengenai hal itu, “Apakah Nabi saw pernah bersabda, ‘Penyesalan itu adalah taubat?”
Beliau menjawab, “Ya” (Hr.Ahmad, Ibnu Hibbân, dan Hakim).
Sebagaimana masalah haji, Nabi saw telah menyabdakan bahwa, “Haji itu adalah Arafah.” Artinya, pelaksanaan ibadah haji menjadi tidak sah manakala meninggalkan rukun utamanya, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Demikian halnya dengan taubat, maka taubatnya tidak akan diterima Allah azza wa jalla, bila seorang tâ`ib dalam taubatnya meninggalkan rukun utamanya, yakni menyesal.
Menyesal adalah refleksi kalbu yang gundah, gelisah, khawatir, takut, dan sedih; manakala ingat akan segenap dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, perasaan serba salah selalu menghantui setiap kegiatan yang dilakukannya. Tipologi orang macam ini telah disebutkan di dalam hadis qudsi,
“Sesungguhnya Aku, jin, dan manusia berada dalam kabar yang besar. Aku yang menciptakan, sementara selain Ku yang disembah. Aku yang memberi rizeki, sementara selain Ku yang disyukuri. Kebaikan Ku turun kepada hamba, dan kejahatan mereka naik kepada Ku. Aku suka melimpahkan nikmat Ku kepada mereka dan Aku tidak membutuhkan mereka, namun mereka marah kepada Ku dengan mengerjakan berbagai macam kedurhakaan; padahal mereka sangat membutuhkan Aku” (Hr.Hakim dan Tirmidzi).
Penyesalan seorang tâ`ib, sebagai wujud penghadiran atas segala nikmat dan karunia-Nya, yang secara bersamaan juga menghadirkan pengakuan atas segenap dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukannya. Sehingga beban kalbunya mencair dan pikirannya menjadi jernih, serta air matanya mencuci noda dan dosa yang telah mengotorinya. Dengan demikian taubatnya dapat dilakukannya secara istiqamah dan mudawwamah. Seperti telah digambarkan Allah pada kasusnya Ka’ab bin Malik ra, Hilal bin Umayyah ra, dan Mararah bin Rabi’ ra, mereka disalahkan karena tidak mau ikut berperang,
“Dan, terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas. Dan, jiwa pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah; melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang” (Qs.at-Taubah: 118).
3. Meninggalkan perbuatan dosanya.
Secara esensial taubat adalah wujud jiwa yang bergejolak karena berhasrat menuju pada bangunan jiwa yang shalih. Sehingga jiwa itu telah mengalami peralihan dari kedurhakaan kepada ketaatan, dari keburukan ke arah kebaikan, peralihan dari jalan setan kepada jalan Allah jalla jalaaluh, dan perpindahan secara revolusioner dari kondisi serba gelap menjadi kondisi serba cahaya, yakni cahaya Allah azza wa jalla, cahaya Muhammad saw, dan cahaya kalbu.
Taubat juga berarti merubah jalan kehidupannya, dari mengingkari-Nya menjadi mengimani-Nya, meninggalkan para teman yang menjadikan dirinya bertaubat, dan meninggalkan tempat guna hijrah kepada tempat yang memberikan penghidupan akan keislaman dan keimanannya.
Buah-Buah Taubat
Taubat adalah sebuah ibadah batin yang menjadi tuntutan bagi segenap kaum muslimin, utamanya bagi seorang ibadurrhaman,
“Dan, bertaubatlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung” (Qs.an-Nûr: 31).
“Dan, sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, lalu tetap di jalan yang benar” (Qs.Thâhâ: 82).
Taubat yang benar akan memiliki buah yang bermanfaat, karena seorang taa`ib, seperti telah difirmankan-Nya,
“…melainkan, orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih. Maka, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan, adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” (Qs.al-Furqân: 70).
Buah taubat yang pertama: maka, kehidupan seorang ibadurrahman telah mengalami perubahan seratus delapan puluh derajat. Di mana segala keburukan, kemaksiatan, kedurhakaan, dan dosa telah dia tinggalkan. Lalu dia menggantinya dengan segenap kebaikan, ketaatan, ketauhidan, keislaman, dan keimanan. Syahwatnya benar-benar telah dapat dikendalikannya dengan kekuatan tarbiyah dan ta’lim rabbaniyahnya.
Sedangkan buah taubat yang kedua: perilakunya seorang ibadurrahman semakin teguh dengan keistiqamahan dan kemudawamahan. Sehingga dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah tidak kenal menyerah dan putus asa, sedikit demi sedikit direngkuhnya kelezatan taubatan nasuha-nya, sambil terus melakukan permohonan ampun agar dapat pertolongan segera dari sisi-Nya. Digambarkan dalam hadis qudsi,
“Jika dia mendekat kepada Ku satu jengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia mendekat kepada Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepadanya satu ba’a. Jika dia mendatangi Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat” (Hr.Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis qudsi yang lain disebutkan,
“Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, selagi kamu berdoa dan berharap kepada Ku, niscaya Aku akan mengampuni bagimu atas apa pun yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sekiranya dosa-dosamu mencapai lengkung langit, lalu kamu memohon ampunan kepada Ku, niscaya Aku mengampuni-mu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu mendatangi Ku dengan membawa sekantong tanah yang berupa kesalahan-kesalahan, lalu kamu bersua dengan Ku tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan Ku, tentu Aku akan mendatangimu dengan sekantong ampunan’.” (Hr.Tirmidzi).
Beberapa Nasehat
1. Guru kita Rabi’ah al-Adawiyyah ra pernah ditanya seseorang mengenai taubat, “Apakah jika aku bertaubat, maka Allah akan menerima taubatku?”
Rabi’ah menjawab dengan berang, “Dasar orang bodoh. Yang benar, karena Allah menerima taubat-mu, maka bertaubatlah kamu.”
Lalu Rabi’ah membaca ayat,
“Tsumma tâba ‘alai-him liyatûbuu, inna-llâha huwat-tawwâbur rahîm”; kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang” (Qs.at-Taubah: 118).
2. Imam Ahmad ra dan Abu Ya’la ra men-takhrij hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ihya`-nya, bahwa ketika Allah mengutuk iblis, maka iblis meminta penangguhan kepada-Nya.
Maka, Allah memberinya penangguhan sampai Hari Kiamat. Iblis berkata, “Demi kemulian Mu, aku benar-benar akan mengeluarkan dari kalbu Bani Adam selagi ruh masih ada padanya.”
Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan Ku, Aku benar-benar akan menerima taubat darinya selagi ruh masih ada padanya.”
3. Guru kita Syekh Abu Ali ad-Daqqaq ra menasehatkan, “Salah seorang murid bertaubat, lalu menerima cobaan. Dia bertanya dalam hati, ‘Jika aku bertaubat, bagaimana hukuman atas diriku nanti?’”
Maka, terdengarlah bisikan dalam jiwanya, “Wahai fulan, kamu taat kepada Kami. Lalu Kami terima syukurmu. Kemudian kamu tinggalkan Kami, maka Kami biarkan saja dirimu. Bila kamu kembali kepada Kami, pasti Kami terima.”
Akhirnya si shantri tersebut memilih jalan taubat dan kembali kepada himmah-nya semula.”
Wahai saudaraku, renungkan sabda Nabi saw,
“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi nyawanya belum sampai ke tenggorokan” (Hr.Tirmidzi).
Sebab itu seorang ibadurrahman selalu memegang wasiat Nabi saw,
“Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu dapat berhimpun pada diri seseorang hingga membinasakannya” (Hr.Ahmad). []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar