Penutup
Kesempurnaan adalah milik-Nya. Terampungkannya buku yang alfaqir susun ini semata, karena rahmat dan pertolongan-Nya. Sekaligus menjawab banyaknya pertanyaan, baik yang terlontar maupun yang cukup menjadikan tanda tanya. Apa itu lambang huruf ‘ain (ع)?
Awalnya, dari sebuah jagongan rutin –sebulan sekali-- di sebuah kampung padat di Surabaya, Kapas Madya IV-P. Salah seorang dari mereka ada yang punya usul, “Daripada pembicaraan tidak fokus, alangkah baiknya, jika dibahas satu atau dua ayat dari Kitab Suci al-Qur`an.” Ternyata usulan tersebut disepakati, dengan ijin-Nya akhirnya berjalanlah “acara” tersebut. Sampai akhirnya alfaqir hijrah ke Tambak Bening II-20, Surabaya; 10 Oktober 1996.
Di luar dugaan, ternyata animo masyarakat banyak yang berminat dengan model penyampaian dan pendekatan pemikiran yang alfaqir tawarkan. Hingga di sini “acara jagongan” tersebut belum memiliki sebuah nama, sebagaimana komitmen awal alfaqir untuk tidak menggunakan nama atau simbol atau seragam tertentu.
Tetapi, Dia berkehendak lain, saudara tua kami, KH.Abdul Adhim Dimyati dari Jombang, hasil istikharahnya mengusulkan sebuah nama, yaitu Ma’hâdul Ibâdah al-Islâmi (Pondok Pesantren al-Ibadah, red). Dengan alasan yang masuk akal dia katakan, “Semua orang Islam kan butuh beribadah kepada Allah azza wa jalla. Tanpa pandang bulu, tidak ada partai, tidak ada ormas, tidak ada aliran, dan tidak ada kelompok.”
Dan, dengan melalui istikharah pula alfaqir menentukan trade mark apa kiranya yang pas dari sebuah nama Ma’hâdul Ibâdah al-Islâmi, biar mudah diingat, gampang dikenal, dan bersifat khas. Akhirnya ketemulah jawabannya, yakni huruf ‘ain yang merupakan huruf awal dari akar kata al-‘ibâdah, yaitu: ‘ain-ba`-dal.
Setelah disepakati dan diterima oleh semua jamaah, hingga suatu ketika guru kami, KHA.Mustofa Bisri (Gus Mus, red) bertanya mengenai apa itu lambang huruf ‘ain. Subhânallah, seketika itu beliau mengatakannya, “Ibadurrahman….” Sehingga mulai saat itu, kami menyosialisasikan dan mengomunikasikan kepada semua jamaah dan kalangan mengenai di balik makna huruf ‘ain, yaitu ibadurrahman.
Dan, apa yang telah alfaqir tulis di dalam buku ini sebagai panduan di Ma’had Tee-Bee mengenai bagaimana seorang ibadurrahman yang dapat menjadi teladan di: keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya.
Memang terasa berat di dalam mengamalkannya, tapi kami yakin Allah azza wa jalla akan menolong setiap hamba-Nya yang berjuang dengan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kebenaran. Wal ladzîna jâhadu fî-nâ lanahdiyan-nahum subûlanâ….[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar