Kamis, 02 September 2010

Mendoakan Isteri & Keluarga

“Dan, para ibadurrahman itu (adalah): …Orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga), karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), ‘Rabb-ku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada ibadah kalian. (Tetapi bagaimana kalian beribadah kepada-Nya) padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian)” (Qs.al-Furqân: 74; 75-77).

Di dalam surah al-furqân ayat ke-74 tersebut di atas memberikan gambaran, bahwa dinul Islam telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk mentradisikan berdoa kepada Allah swt Karena berdoa merupakan implementasi ketawadlu’an, dari seorang hamba kepada Sang Khaliq jalla jalâluh. Di mana dengan berdoa, seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa, optimisme kalbu, dan semakin kuat prinsip-prinsip tauhid, ibadah, mahabbah, dan ikhtiarnya.
Seorang ibadurrahman tidaklah menyia-nyiakan kesempatan terbaik ini dengan begitu saja, melainkan dia gunakan kesempatan berdoa itu untuk memohon kepada Allah swt, agar dianugerahi para isteri dan anak keturunannya yang dapat menyenangkan hatinya (qurrata a’yunin). Dan, pada saatnya nanti dia juga berharap, supaya mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.
Begitulah doa dan harapan seorang ibadurrahman, dia memanjatkan doa dan pujiannya menurut apa yang menjadi keinginannya. Karena seorang ibadurrahman mengamalkan sunnah Nabi saw dalam berdoa, di mana beliau mengucapkan doa-doanya benar-benar sesuai dengan kebutuhan, yang dipikirkan, dan yang beliau inginkan.
Sehingga di antara doa-doa beliau ada yang berisikan permohonan perbaikan urusan diniah, perbaikan urusan dunia dan akhirat, memohon tambahan kebaikan dalam kehidupan, dan menjadi kematian sebagai pelepas dari segala kejahatan. Bahkan, beliau biasa melantunkan doa-doa yang sarat dengan berbagai makna, berlindung dari kemunafikan dan akhlak yang buruk, berlindung dari cobaan yang berat, penderitaan yang terus-menerus dan lain-lainnya.
Di sinilah, kita kaum muslimin yang awam ini, hendaklah membiasakan diri memperhatikan tatakrama berdoanya seorang ibadurrahman. Di mana seorang ibadurrahman benar-benar mengetahui bagaimana seharusnya seorang mukmin berpikir, berkehendak, dan memiliki tujuan akhir di dalam kehidupannya.
Dari doa seorang ibadurrahman, sangatlah tercermin bahwa dia begitu memperhatikan kehidupan dunia ini. Tetapi dia sangat menghindari memperhatikan dunia dengan nafsu syahwatnya, sebab perhatiannya lebih tertuju pada tujuan yang lebih besar, yakni hasratnya memohon kepada Allah swt agar dinugerahi isteri dan keturunan yang menyenangkan hati (qurrata a’yunin), dan dia juga sangat berharap agar mereka dikarunia kepemimpinan atas kaum yang muttaqin.
Seorang ibadurrahman tidak selalu sibuk dengan urusan pribadinya. Namun dia juga berharap kebaikan, keberkahan, dan kemaslahatan juga merambah pada para hamba Allah yang lainnya. Dia menginginkan supaya rahmat, hidayah, dan taufiq-Nya juga dapat dirasakan orang-orang terdekatnya, termasuk dalam hal ini adalah para istri dan anak keturunannya sampai Hari Kiamat nanti.
Karena kebahagian seorang ibadurrahman, manakala melihat para isteri dan anak-anaknya serta keturunannya, dianugerahi oleh Allah swt nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat sehatnya badan. Sehingga mereka dengan sadar dan secara sukarela telah dapat melakukan ketaatan dan penghambaan kepada Allah azza wa jalla.

Perempuan Shalihah Itu Perhiasan Dunia
Seorang ibadurrahman selalu mendambakan kehadiran seorang isteri yang shalihah, dikarenakan isteri yang shalihah merupakan perhiasan dunia.

“Dunia ini perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah” (Hadis Shahîh).

Kehadirannya merupakan pancaran hidayah kebaikan, yang akan selalu mendorong peran dan fungsi suaminya untuk mendapatkan taufiq-Nya.
Telah disabdakan Nabi saw,

“Tidaklah seorang mukmin mendapatkan sesuatu yang lebih baik setelah takwa kepada Allah, selain dari isteri yang shalihah. Jika dia menyuruhnya, maka istrinya itu menaatinya. Jika dia memandangnya, maka isterinya itu membuatnya senang. Jika dia memberikan bagian kepadanya, maka istrinya itu berbuat baik kepadanya. Jika dia meninggalkannya, maka isterinya itu menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya” (Hr.Ibnu Majah).

Lalu Nabi saw membaca ayat,

“Maka, perempuan yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada; oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” (Qs.an-Nisâ`: 34).

Dinul Islam mengajarkan, bahwa keberadaan isteri yang dapat menyenangkan hati dan mata suaminya, adalah unsur utama yang dapat mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Disabdakan Nabi saw,

“Di antara kebahagiaan Bani Adam, ialah isteri yang shalihah, tempat tinggal yang layak, dan kendaraan yang layak pula” (Hr.Ahmad).

Di riwayat lain, Nabi saw juga pernah bersabda,

“Empat perkara, barangsiapa yang diberi empat perkara ini, maka dia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat. Yakni: (1)Hati yang selalu bersyukur; (2)Lisan yang selalu berdzikir; (3)Badan yang sabar menghadapi ujian; dan (4)Isteri yang tidak menimbulkan kesukaran dalam dirinya dan hartanya” (Hr.Thabrani).

Seorang isteri yang shalihah adalah laksana mutiara zamrud katulistiwa. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang konon mengklaim dirinya sebagai masyarakat modern, ternyata bukan komedernan yang diperolehnya malainkan sebuah kekosongan nilai (anomali). Kehadiran isteri yang shalihah, niscaya akan sangat membantu suaminya di dalam melaksanakan tugas keberagamaannya.
Konon pernah terjadi di jaman orang-orang terdahulu, setiap kali suaminya hendak pamit untuk berangkat berdagang, isterinya selalu berpesan, “Wahai suamiku, janganlah kamu mencari hasil yang haram, karena aku dapat bersabar menghadapi lapar dan dahaga, namun kita tidak sabar karena api neraka dan kemurkaan Allah.”
Seorang isteri yang shalihah, yakin benar bahwa hidup dan kehidupan, rizeki dan ma`isyah kesemuanya datangnya dari sisi Allah swt, termasuk yang mencukupi segala kebutuhannya. Sehingga tidak pernah gentar dengan kondisi perekonomian keluarga yang acap kali serba kekurangan. Malah sebaliknya, isteri yang shalihah senantiasa mendorong suaminya untuk selalu taat dan patuh kepada Allah swt dalam kondisi apa pun, dan bagaimana pun.
Sebagaimana dikatakan cucunda Nabi saw Sayyidina Hasan ra, bahwa makna ayat yang berarti penyenang hati di dalam surah al-furqân ayat ke-74, itu berarti konteks dunia, “Demi Allah, itu berlaku di dunia.”
Sedangkan menurut sahabat Ikrimah ra, makna qurrata a’yunin adalah, “Memiliki sikap ketaatan kepada Allah jalla jalâluh, bukan kedudukannya atau kecantikannya.”
Dinul Islam mengajarkan kepada kaum muslimin, supaya mendapatkan isteri yang shalihah, yaitu isteri yang taat kepada diniahnya. Seperti telah dipesankan Nabi saw,

“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara: (1)Karena hartanya; (2)Keturunannya; (3)Kecantikannya; dan (4)Karena diniahnya. Carilah perempuan yang taat kepada diniahnya, niscaya hal itu cukup bagimu” (Hr.Bukhari dan Muslim).

Oleh karena seorang ibadurrahman selalu menghendaki kebaikan dan kemaslahatan terhadap orang-orang terdekatnya, seperti para isteri, anak-anak, dan cucu-cucunya. Dia sangat mengharapkan agar mereka benar-benar mendapatkan kebaikan di sisi Allah jalla jalâluh.

Beberapa Teladan
Seorang ibadurrahman memegang kuat ayat ke-6 surah at-tahrim,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya, adalah manusia dan batu.”

Dan, ayat di atas merupakan ekspresi keberagamaan yang mendalam, yang kemudian diimplementasikan ke dalam perilaku keberagamaan kesehariannya.
Dari kenyataan tersebut, dapatlah kiranya diambil pelajaran, dari beberapa teladan yang pernah dilakoni oleh saudara-saudara kita di Jamaah nDalem Kasepuhan Surabaya, antara lain:
1. Adalah Mahfudz Ahmad Muhammad, shantri yang satu ini sangat tekun mengikuti seluruh kegiatan ma’had. Namun dia masih merasa ada ganjalan, disebabkan isterinya belum ikut mengaji. Dan, dalam kesehariannya belum menggunakan jilbab (hijâb). Dengan kata lain, jilbab baru sekadar menjadi pakaian ‘dinas pengajian ibu-ibu’ sebagaimana lazimnya para muslimah jaman sekarang ini.
Dengan keistiqamahannya, dia selalu memohon kepada Allah swt agar isterinya dikarunia akhlak yang shalihah. Ternyata hampir empat tahun doa itu baru dikabulkan oleh Allah swt.
Sekarang isterinya, dengan kesadarannya sendiri telah mau datang di majelis pengajian Keluarga Sakinah di nDalem Kasepuhan. Tidak hanya itu, jilbab telah menutup auratnya, meski berada di dalam rumah suaminya. Shalat fardlunya berjamaah bersama para anaknya yang masih kecil-kecil, malam tak pernah terlewatkan tanpa qiyamul lail.
Si suami hanya bisa bersyukur dan menangis, begitu mudahnya bila Allah itu menghendaki seseorang menjadi baik. Gumannya dalam hati.
2. Pengalaman Haji Musthafa Ahmad, bila si isteri dianjurkan untuk berjilbab selalu jawabannya klise, yaitu malu.
Akhirnya dia memohon kepada Allah swt agar dapat menunaikan ibadah haji bersama isterinya. Allah mengabulkannya, yakni di 1996 pergi haji bersama isteri. Mulai saat itu, setelah pulang dari ibadah haji si isteri tidak pernah lagi membuka auratnya.
Bahkan, di 2001 pergi haji lagi bersama keluarganya, yang mengejutkan namun manjadikan si suami sujud syukur, bahwa isterinya telah mengambil keputusan di Makkah, setibanya di tanah air nanti, akan mengundurkan diri dari Bank Mandiri. Semata-mata ingin lebih produktif di dalam membina mental, karakter, dan akhlak anak-anaknya. Karena dia tidak rela, bila para anak-anaknya lebih dekat dengan orang lain. Karena memang sang suaminya ditakdirkan Allah telah mencukupi segala-galanya.
3. Adalah pengakuan Haji Muhammad Syahlan, bila bercerita mengenai isterinya matanya langsung berkaca-kaca. Karena dia bersyukur kepada Allah swt.
Menurut ceritanya, seandainya dia tidak menikah dengan isterinya tersebut, mungkin sampai detik ini dia tetap tidak dapat membaca al-qur`an dengan baik dan benar.
Lebih dari itu kebiasaan buruknya mungkin tidak dapat berhenti, yaitu main lotre (baca: togel). Maklum si isteri adalah shantriwati asuhan dari al-maghfurlah Allahu yarham KH.Mundzir, Ma’had Ma`una Sari Bandar Kidul, Kediri, Jatim.
Tidak sekadar membaca al-qur`an, tetapi adab dan akhlak juga menjadi ‘mata kuliah’ pokok di saat-saat pengantin baru. Hasilnya dia sangat merasakannya sekarang ini, setelah umur memasuki kepala lima. “Benar, apa yang dipesankan Nabi kita, agar mencari isteri yang shalihah, karena memang sangat penting dalam berumah tangga,” demikian nasehatnya kepada putera-puterinya.
Pengalaman keberagamaan yang diwakili oleh ketiga saudara kita tersebut di atas, merupakan implementasi sebagai seorang suami yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt kelak, dan inilah cara berpikir seorang ibadurrahman. Sebab Nabi saw telah bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin mengenai apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaga ataukah menyia-nyiakan, hingga seorang lelaki ditanya mengenai anggota keluarganya” (Hr.Nasâ`i dan Ibnu Hibban, dari Anas ra).

Di riwayat lain, Nabi saw bersabda,

“Setiap orang di antara kalian menjadi pemimpin, dan akan ditanyai mengenai apa yang dipimpinnya. Seorang imam menjadi pemimpin, dan akan ditanya mengenai apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki menjadi pemimpin di tengah keluarganya, dan akan ditanyai mengenai apa yang dipimpinnya. Seorang perempuan menjadi pemimpin di rumah suaminya, dan akan ditanyai mengenai apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu menjadi pemimpin terhadap harta tuanya, dan akan ditanya mengenai apa yang dipimpinnya. Setiap orang di antara kalian menjadi pemimpin, dan akan ditanya mengenai apa yang dipimpinnya” (Hr.Bukhari & Muslim).

Demikianlah seorang ibadurrahman sangat hati-hati di dalam membina keluarganya. Karena kebahagiaan hakiki, baginya adalah terdapatnya isteri yang shalihah, anak-anak yang shalih dan shalihah, dan keluarga yang sakinah.
Dia tidak banyak berharap, kecuali berkeinginan bahwa di dalam keluarganya telah terjadi tradisi ‘kecerdasan keberagamaan’, yang memola pada al-qur`an dan as-sunnah Nabi saw. []

1 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    BalasHapus